Grant-free multiple access merupakan teknik akses jamak dengan skema
komunikasi tanpa adanya proses scheduling yang dilakukan oleh Base Station (BS).
Teknik akses jamak yang cocok untuk diimplementasikan dengan skema grant-free
adalah Non-orthogonal Multiple Access (NOMA). NOMA mampu melayani
pengguna dalam jumlah besar dan skema grant-free pada NOMA dapat mengatasi
signaling overhead dan mereduksi latency. Namun, hal yang menjadi permasalahan
pada komunikasi grant-free NOMA ini adalah proses deteksi pengguna terutama
untuk komunikasi dari pengguna ke BS. Compressive Sensing (CS) dapat
diterapkan untuk mendeteksi pengguna pada komunikasi grant-free NOMA dengan
memanfaatkan sparsity aktivitas pengguna, yaitu kondisi ketika jumlah pengguna
aktif jauh lebih sedikit dari jumlah keseluruhan pengguna yang terdaftar. Oleh
karena itu, deteksi pengguna dapat diformulasikan sebagai permasalahan estimasi
sinyal sparse dan diselesaikan menggunakan algoritma rekonstruksi sinyal.
Pada penelitian ini, CS dengan prinsip rekonstruksi sinyal diterapkan sebagai teknik
deteksi pengguna pada komunikasi grant-free NOMA. Skema komunikasi yang
diterapkan adalah grant-free dengan arah komunikasi uplink pada Internet of
Things (IoT) tanpa adanya scheduling perangkat pada BS. Dalam hal ini, BS tidak
mengetahui jumlah perangkat aktif atau perangkat yang melakukan komunikasi.
Extended Sparsity Estimation- Orthogonal Matching Pursuit (ESE-OMP)
diusulkan untuk proses deteksi perangkat pada komunikasi ini. Berbeda dengan
OMP, iterasi pada ESE-OMP didasarkan pada nilai mutlak dari pengurangan ?1-
norm residu sebelumnya dengan ?1-norm residu saat ini. Dari penentuan iterasi ini,
ESE-OMP mampu melakukan estimasi sparsity level yang merepresentasikan
jumlah perangkat aktif. ESE-OMP diterapkan pada sistem dengan jenis NOMA
berupa Low Density Spreading-Orthogonal Frequency Division Multiplexing
(LDS-OFDM) dalam bentuk ireguler maupun reguler dan Pattern Division Multiple
Access (PDMA). Perbedaan ketiga sistem ini terletak pada penggunaan subcarrier
oleh masing-masing perangkat aktif saat melakukan komunikasi dengan BS. Pada
saat informasi dikirimkan, informasi tersebut dipengaruhi oleh kanal komunikasi
dengan distribusi Rayleigh dan derau berupa Additive White Gaussian Noise
(AWGN). Deteksi perangkat aktif dilakukan dengan dua cara, yaitu deteksi
berdasarkan time slot yang dipandang sebagai permasalahan Single Measurement
Vector (SMV) dan deteksi berdasarkan frame yang dipandang sebagai
permasalahan Multiple Measurement Vector (MMV).
ESE-OMP dapat melakukan estimasi jumlah perangkat aktif dengan baik pada
sistem LDS-OFDM Ireguler, LDS-OFDM Reguler, dan PDMA, baik untuk
permasalahan SMV maupun MMV. Dari tiga sistem yang dievaluasi tersebut,
sistem LDS-OFDM Reguler memiliki kinerja paling baik dalam hal Bit Error Rate
(BER) terhadap Signal to Noise Ratio (SNR) untuk permasalahan SMV dan MMV.
Hal ini karena seluruh perangkat aktif pada sistem LDS-OFDM Reguler
menggunakan dua subcarrier untuk menebar informasi saat melakukan komunikasi
dengan BS. Pada sistem LDS-OFDM Ireguler dan PDMA, beberapa perangkat aktif
hanya menggunakan satu subcarrier untuk menebar informasi saat melakukan
komunikasi dengan BS. Oleh karena itu, regenerasi sinyal pada sistem LDS-OFDM
Reguler lebih baik dari regenerasi sinyal pada sistem LDS-OFDM Ireguler dan
PDMA. Ketika nilai SNR sebesar 10 dB dan susunan perangkat aktif bersifat tetap,
sistem LDS-OFDM Reguler mampu mencapai nilai BER sebesar 2,95 × 10?4,
sistem LDS-OFDM Ireguler mampu mencapai nilai BER sebesar 3,78 × 10?3, dan
sistem PDMA mampu mencapai nilai BER sebesar 1,79 × 10?2. Semakin kecil
jumlah perangkat aktif, semakin kecil nilai SNR yang dibutuhkan untuk mencapai
nilai BER tertentu. Hal ini berarti bahwa semakin sedikit jumlah sinyal yang
bernilai tidak 0, sehingga kinerja algoritma rekonstruksi sinyal semakin baik. Hal
lain yang mempengaruhi ini adalah semakin sedikitnya jumlah subcarrier yang
digunakan dalam komunikasi jika jumlah perangkat aktif semakin sedikit.
Perpustakaan Digital ITB