digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Hendy Yuliansyah [37021015]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Film horor merupakan salah satu genre yang memiliki posisi penting dalam perkembangan sinema Indonesia, baik sebagai hiburan populer maupun sebagai medium ekspresi budaya. Sejak 1940-an, representasi sosok hantu mengalami transformasi estetika dan naratif yang signifikan, tidak hanya pada alur cerita, tetapi juga pada desain visual yang meliputi: tata artistik, kostum, dan kompleksitas karakter. Dalam konteks budaya Indonesia, hantu dipahami bukan sekadar figur menakutkan, tetapi sebagai simbol yang memuat makna sosial, religius, dan moral. Fenomena ini paling menonjol pada representasi hantu perempuan yang secara konsisten mendominasi film horor Indonesia. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa tubuh perempuan diposisikan sebagai medium visual yang efektif untuk membangun ketakutan sekaligus menyampaikan pesan ideologis tertentu. Visualisasi hantu perempuan umumnya ditampilkan sebagai figur monstrous feminine: perempuan berambut panjang, berpakaian putih, bertubuh utuh, dan bergerak layaknya manusia biasa, tetapi direpresentasikan sebagai sosok mengejutkan, mengerikan, dan hina. Narasi pemerkosaan, pelecehan, dan ketidakadilan gender kerap menjadi latar yang melahirkan motif balas dendam, sehingga hantu perempuan identik dengan kekerasan retributif. Perkembangan genre menunjukkan dinamika karakter tersebut. Pada 1970-an, hantu digambarkan sebagai pengganggu bagi individu tertentu; pada 1980-an, sebagai sosok pendendam dengan tindakan pembunuhan selektif yang sering diimbangi dengan figur ustaz sebagai penakluk; dan pada 2000-an, berkembang menjadi monster yang menyerang siapa pun, termasuk tokoh religius, yaitu ustaz, sebagaimana dalam Pengabdi Setan (2017). Pergeseran ini menandai transisi horor Indonesia dari nuansa religius-populer menjadi kekerasan fisik dan psikologis yang lebih dominan, sekaligus menunjukkan pelepasan unsur moralitas ketimuran. Pada saat yang sama, pelabelan perempuan dengan atribut mistisisme dan bahaya menguatkan hegemoni patriarki dalam konstruksi budaya. Penelitian ini berangkat dari fenomena representasi hantu perempuan yang secara konsisten muncul lintas dekade dan berfungsi sebagai artikulasi ketegangan sosial—mulai dari ketidakadilan gender, residu kepercayaan lokal, dinamika spiritualitas, hingga perubahan nilai dalam keluarga modern. Meskipun kajian tentang horor Indonesia telah banyak membahas aspek naratif dan ideologi, penelitian mengenai desain visual hantu perempuan—terutama analisis tanda visual, atribut busana, ekspresi wajah, warna, dan estetika tubuh—masih terbatas. Hal ini menegaskan adanya research gap dalam kajian sinema horor Indonesia, yaitu kurangnya pendalaman analisis visual-semiotis yang komprehensif terhadap konstruksi perempuan sebagai figur hantu. Penelitian ini bertujuan untuk: mengidentifikasi elemen-elemen visual yang membentuk representasi hantu perempuan dalam film horor Indonesia, dengan menganalisis tingkatan dan relasi tanda yang diterapkan pada ketiga sosok hantu perempuan, dengan menganalisis makna denotatif, konotatif, dan ideologis dari tanda-tanda visual tersebut; menganalisis pesan dan makna dari tingkatan dan relasi tanda ketiga sosok hantu dari ketiga film horor serta mengungkap nilai kultural yang tercermin dalam visualisasi hantu perempuan sebagai representasi dinamika sosial, budaya, dan religius. Pendekatan yang digunakan adalah studi budaya yang dipopulerkan Stuart Hall dengan metode interdisipliner, menggabungkan semiotika visual Roland Barthes sebagai teori utama, teori retorika visual, serta teori film yang menekankan analisis tentang mise-en-scène meliputi; framing, pencahayaan, kostum, dan gestur. Tiga film lintas dekade dijadikan objek kajian, yaitu Si Manis Jembatan Ancol (1973), Ratu Buaya Putih (1980-an), dan Pengabdi Setan (2017), yang masing-masing merepresentasikan dan mewakili karakter sosok hantu secara umum yang ditampilkan pada film horor Indonesia, serta tipologi hantu perempuan yang berbeda: korban ketidakadilan sosial, ratu mistik sakral, dan ibu yang kehilangan kesucian spiritual.