digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Andrico Luis Marcello
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Transformasi mobilitas di Kota Bandung yang dipicu oleh rencana elektrifikasi jalur komuter Padalarang-Cicalengka dan integrasi layanan Kereta Feeder Whoosh membawa tantangan baru bagi infrastruktur transportasi kota. Volume penumpang harian diproyeksikan melonjak drastis, sementara kondisi eksisting Stasiun Bandung menunjukkan disfungsi spasial yang signifikan. Evaluasi mandiri berdasarkan standar TOD menempatkan kawasan stasiun ini pada kualifikasi di bawah standar minimum, serta persepsi warga lokal yang menganggap stasiun hanya sebagai fasilitas transit. Merespons krisis kapasitas dan fungsi tersebut, proyek ini mengusulkan rekonsepsi Stasiun Bandung menjadi sebuah Sentral Urban Node lintas moda yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan perancangan didasari oleh konsep placemaking, di mana desain yang mengedepankan dan ditujukan untuk manusia secara universal, spasial berakar pada konsep Arsitektur Osmosis, di mana arsitektur digunakan sebagai fasilitas pergerakan pengguna agar mengalir secara organik dan terdistribusi logis antara fungsi keberangkatan, kedatangan, serta zona komersial. Rancangan ini juga dioptimalkan dengan merespons aspek Green Building untuk efisiensi energi, konservasi air, serta meningkatkan kualitas ruangan. Secara arsitektural, perancangan ini berhadapan langsung dengan eksistensi Bangunan Cagar Budaya Golongan A di area selatan stasiun. Untuk menghormati nilai historis tersebut, proyek ini menerapkan strategi desain Kontras. Massa bangunan baru mengusung ekspresi modern dengan struktur atap parametrik dinamis bergaya biomimikri, yang secara visual mempertegas batas antara warisan kolonial dan visi infrastruktur masa depan. Secara keseluruhan, rekonsepsi ini mendefinisikan ulang peran stasiun dari sekadar titik henti transit mekanis menjadi noda urban kota yang inklusif, berkelanjutan, menggerakan ekonomi, maju, dan menarik perhatian.