digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Toriq Ihza Faruq Asshara
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Sebanyak 28 juta masyarakat Indonesia berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental, dengan 87% penderita depresi tercatat tidak mencari pengobatan (Kemenkes, 2023). Kelompok usia 15–24 tahun tercatat memiliki prevalensi depresi tertinggi, sebesar 2%. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan tenaga profesional di Indonesia, dengan rasio psikiater mencapai 1 banding 250.000 penduduk, berbeda dari standar WHO sebesar 1:30.000. Stigma yang ada dan tumbuh di masyarakat membentuk kecenderungan penderita mengisolasi diri dan menunda pencarian bantuan profesional. Di Kota Bandung, kemacetan kronis akibat 2,2 juta kendaraan untuk 2,4 juta jiwa serta keterbatasan ruang terbuka hijau (12,3% dari standar minimum 30%) menjadi faktor tambahan yang memicu stres pada masyarakat perkotaan. Kondisi tersebut menjadi latar belakang bagi kebutuhan fasilitas yang dapat mengakomodasi layanan kesehatan mental secara terbuka dan terintegrasi dengan aktivitas publik. Penentuan tipologi didasarkan pada kebutuhan ruang yang mengaburkan batas antara fasilitas kesehatan mental dan ruang publik, sebagai respon terhadap tiga isu utama: akses layanan psikologis bagi kaum muda, ruang interaksi sosial dan dukungan komunitas, serta tekanan psikologis di lingkungan perkotaan. Fungsi tersebut diimplementasikan melalui integrasi layanan psikologi dan psikiatri dengan area komersial, restoran, pusat kebugaran, dan spa dalam satu bangunan. Kawasan Jalan Dipati Ukur, yang berbatasan dengan Jalan Teuku Umar, ditentukan sebagai tapak perancangan. Melalui prinsip cahaya alami, elemen biofilik, keseimbangan ruang, dan kontrol sensoris, Healing Architecture diwujudkan ke dalam tiga pilar respons desain. Pendekatan ini menciptakan lingkungan binaan yang aksesibel bagi layanan rehabilitasi, terintegrasi secara fungsi, dan memulihkan kondisi psikologis. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis perilaku pengguna, serta studi komparatif terhadap tipologi fasilitas sejenis di tingkat nasional dan internasional, dengan hasil berupa gubahan massa yang merespons batas tapak melalui subtraksi volume tengah, pemisahan massa untuk sirkulasi, dan penyesuaian elevasi untuk penetrasi cahaya matahari, serta zonasi vertikal dengan tingkat privasi yang meningkat pada lantai atas. Perancangan proyek bertujuan mewujudkan fasilitas yang mengintegrasikan fungsi klinis, wellness, dan publik sebagai respon terhadap isu kesehatan mental pada kelompok muda. Luaran yang dituju berupa tipologi bangunan yang berkontribusi pada peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental, pengurangan stigma sosial, serta penguatan sistem dukungan bagi generasi muda di Kota Bandung