PT Freeport Indonesia melalui Dewatering Plant akan mengintegrasikan aset
Shiploader-2 (SL-2) baru yang terotomasi; sebuah perubahan yang menuntut
kesiapan baru dari tenaga kerja yang selama ini terbiasa mengoperasikan satu
shiploader tunggal yang menua. Penelitian ini mengevaluasi kesiapan tenaga kerja
operasional pabrik terhadap integrasi tersebut sekaligus merumuskan strategi
mitigasi yang dapat ditindaklanjuti. Dengan desain mixed-methods konvergen,
penelitian mensurvei 157 karyawan menggunakan kerangka kesiapan teknologi
yang diperluas yang terdiri dari: Technological Readiness Index (TRI) 2.0 yang
ditambah dimensi Role Clarity dan Organizational Capability; dan mewawancarai
25 informan kunci, lalu menerapkan Kepner-Tregoe Potential Problem Analysis
(KT-PPA) pada temuan yang terintegrasi. Indeks Kesiapan Karyawan komposit
sebesar 3,91, secara signifikan di bawah ambang “siap” 4,00 (t = ?2,02; p =
0,045), dan kendala utamanya bersifat organisasional, bukan sikap: kesiapan sikap
berada tepat di ambang (Optimism 4,59; Innovativeness 4,47), sedangkan Role
Clarity (3,68) dan Organizational Capability (3,76) tertinggal secara signifikan.
Analisis Pareto mengisolasi empat defisit “vital few” yaitu kuantitas tenaga kerja,
rasa tidak aman, kewenangan pengambilan keputusan, dan ketidakjelasan batas
peran. KT-PPA menerjemahkan kesenjangan ini menjadi tujuh potential problem
terprioritas, mulai dari kekurangan tenaga kerja dan ambiguitas peran lintas-batas
hingga ketidakpercayaan terhadap otomasi, yang masing-masing ditelusuri hingga
akar penyebabnya dan dipasangkan dengan tindakan preventif serta kontingen.
Semuanya dikonsolidasikan menjadi lima paket solusi terintegrasi yang terdiri
dari: program kesiapan operasional; studi beban kerja dan tenaga kerja; jalur
kompetensi dan pelatihan; paket tata kelola kejelasan peran; serta paket asset
stewardship dan disiplin pemuatan; yang diurutkan dalam peta jalan bertahap
menuju commissioning. Penelitian menyimpulkan bahwa tenaga kerja bersedia
namun belum terberdayakan secara organisasional, dan bahwa menutup
kesenjangan organisasional jauh sebelum commissioning merupakan tuas penentu
keberhasilan integrasi SL-2.
Perpustakaan Digital ITB