digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Freeport Indonesia melalui Dewatering Plant akan mengintegrasikan aset Shiploader-2 (SL-2) baru yang terotomasi; sebuah perubahan yang menuntut kesiapan baru dari tenaga kerja yang selama ini terbiasa mengoperasikan satu shiploader tunggal yang menua. Penelitian ini mengevaluasi kesiapan tenaga kerja operasional pabrik terhadap integrasi tersebut sekaligus merumuskan strategi mitigasi yang dapat ditindaklanjuti. Dengan desain mixed-methods konvergen, penelitian mensurvei 157 karyawan menggunakan kerangka kesiapan teknologi yang diperluas yang terdiri dari: Technological Readiness Index (TRI) 2.0 yang ditambah dimensi Role Clarity dan Organizational Capability; dan mewawancarai 25 informan kunci, lalu menerapkan Kepner-Tregoe Potential Problem Analysis (KT-PPA) pada temuan yang terintegrasi. Indeks Kesiapan Karyawan komposit sebesar 3,91, secara signifikan di bawah ambang “siap” 4,00 (t = ?2,02; p = 0,045), dan kendala utamanya bersifat organisasional, bukan sikap: kesiapan sikap berada tepat di ambang (Optimism 4,59; Innovativeness 4,47), sedangkan Role Clarity (3,68) dan Organizational Capability (3,76) tertinggal secara signifikan. Analisis Pareto mengisolasi empat defisit “vital few” yaitu kuantitas tenaga kerja, rasa tidak aman, kewenangan pengambilan keputusan, dan ketidakjelasan batas peran. KT-PPA menerjemahkan kesenjangan ini menjadi tujuh potential problem terprioritas, mulai dari kekurangan tenaga kerja dan ambiguitas peran lintas-batas hingga ketidakpercayaan terhadap otomasi, yang masing-masing ditelusuri hingga akar penyebabnya dan dipasangkan dengan tindakan preventif serta kontingen. Semuanya dikonsolidasikan menjadi lima paket solusi terintegrasi yang terdiri dari: program kesiapan operasional; studi beban kerja dan tenaga kerja; jalur kompetensi dan pelatihan; paket tata kelola kejelasan peran; serta paket asset stewardship dan disiplin pemuatan; yang diurutkan dalam peta jalan bertahap menuju commissioning. Penelitian menyimpulkan bahwa tenaga kerja bersedia namun belum terberdayakan secara organisasional, dan bahwa menutup kesenjangan organisasional jauh sebelum commissioning merupakan tuas penentu keberhasilan integrasi SL-2.