Abstrak_Astri Nagita Hidayat
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Arsitektur memiliki peran penting dalam menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Dalam pembangunan kota yang resilien dan membina generasi mudanya, arsitektur dapat menjadi katalis melalui perancangan fasilitas yang mampu mendukung proses pemulihan, pembinaan, dan reintegrasi sosial sebagai penyediaan ruang yang aman bagi anak-anak rentan di kawasan perkotaan. Sayangnya, permasalahan anak rentan, khususnya anak jalanan yang terdorong menjadi pekerja informal akibat kemiskinan, disfungsi keluarga, maupun keterbatasan akses pendidikan, masih menjadi fenomena yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial (2022), terdapat sekitar 16.290 anak jalanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menjadi salah satu daerah perkotaan dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Sosial (2024), terdapat 1.645 anak jalanan di Kota Bandung dengan tren peningkatan sekitar 400 anak setiap tahunnya. Pada tahun 2023, Dinas Sosial juga menyebutkan bahwa Jalan Pajajaran menjadi salah satu dari sembilan kawasan rawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kerentanan anak di kawasan perkotaan, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun perkembangan perilaku. Perancangan Pusat Reintegrasi dan Pemulihan Anak Rentan Perkotaan di Jalan Pajajaran, Kota Bandung mengintegrasikan fungsi hunian transisi, pendidikan nonformal, konseling psikososial, pengembangan keterampilan, serta ruang interaksi komunitas sebagai wadah yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat. Pendekatan arsitektur berbasis perilaku diterapkan melalui perancangan lingkungan binaan yang mempertimbangkan hubungan antara perilaku pengguna dengan elemen ruang, kualitas visual, serta materialitas yang mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan interaksi sosial yang positif, membangun kemandirian, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Metode perancangan meliputi studi literatur mengenai anak rentan perkotaan, pusat reintegrasi, dan arsitektur berbasis perilaku; observasi lapangan pada fasilitas pemberdayaan anak di Bandung; analisis kebutuhan pengguna; serta eksplorasi desain melalui zoning, simulasi pencahayaan, analisis perilaku pengguna, dan pemilihan material yang mendukung kenyamanan serta pembentukan perilaku adaptif. Dengan demikian, proyek berfungsi sebagai fasilitas pemulihan, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang membantu anak rentan membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kesiapan untuk kembali berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga mendukung terwujudnya SDG 11 melalui peningkatan kualitas hidup anak dan keberlanjutan komunitas perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB