digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Warida Kobila Mulyana Laila
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Proses pemulihan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam fase pasca-rawat di Rumah Sakit Jiwa, keluarga sering kali memiliki resiliensi yang rendah dalam menerima kembali anggota keluarganya. Kondisi ini dapat menyebabkan ODGJ kambuh akibat lingkungan yang tidak mendukung serta lemahnya pengawasan keluarga. Menanggapi hal tersebut, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan rumah singgah bagi ODGJ sebagai fasilitas transisi yang berfungsi menjembatani proses pemulihan dari RSJ menuju kehidupan bermasyarakat. Keberadaan rumah singgah menjadi penting sebagai wadah antara yang mampu memberikan pengawasan, pendampingan, dan penguatan fungsi sosial sebelum ODGJ kembali hidup mandiri. Topik ini dipilih karena relevansinya dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya panel design for inclusivity, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas kesehatan mental masyarakat sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap kelompok marjinal melalui penyediaan infrastruktur sosial yang inklusif. Hal tersebut berkaitan dengan pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Permasalahan yang diidentifikasi mencakup ODGJ pasca-rawat yang memerlukan rehabilitasi sosial serta pengawasan konsumsi obat, ODGJ korban pasung yang membutuhkan penanganan manusiawi, serta ODGJ terlantar yang belum memperoleh fasilitas penampungan layak. Selain itu, isu terkait praktik pasung di beberapa panti ODGJ juga menjadi pertimbangan dalam perancangan. Dengan demikian, rumah singgah dipilih sebagai tipologi bangunan karena dapat mengakomodasi fungsi rehabilitasi, pengasuhan, dan reintegrasi sosial dalam satu kesatuan. Perancangan menggunakan pendekatan healing environment dan therapeutic architecture, dengan prinsip menciptakan ruang yang menenangkan, aman, dan mendukung pemulihan psikologis pengguna. Tapak yang dipilih berlokasi di Jl. Pasirsereh, Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dengan pertimbangan kebutuhan pengguna, prinsip humanis, serta jaraknya yang relatif dekat dengan RSJ Cisarua. Kerangka desain yang digunakan adalah force-based framework, yang menekankan identifikasi isu sosial sebagai dasar perancangan. Metode yang diterapkan meliputi studi literatur, observasi lapangan untuk memahami konteks kasus di Jawa Barat, serta analisis studi kasus sejenis di dalam maupun luar negeri sebagai acuan standar perancangan. Hasil yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah rancangan rumah singgah yang adaptif dan inklusif yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah penampungan, tetapi juga sebagai sarana rehabilitasi sosial dan pemberdayaan.