Abstrak_Nayyara Haifa Akmal
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Isu kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi tantangan dari segi keterbatasan fasilitas dan stigma sosial yang buruk. Persentase generasi Z pengidap gangguan mental di Indonesia ditemukan sebanyak 57% pengidap gangguan pascatrauma, 39% pengidap gangguan neurotik, dan 30,5% pengidap gangguan psikotik (Saputra, dkk, 2025). Di Provinsi Jawa Barat, jumlah penderita gangguan mental mengalami peningkatan dari 9,3% menjadi 12,1% pada tahun 2018 (Khairunnisa, A., dkk, 2021) dan kerap meningkat hingga saat ini. Maka Kota Bandung menjadi lokasi fokus untuk rancangan ini. Semua orang di dalam komunitas pengidap gangguan mental mengalami isu ketidaksetaraan hak yang sama. Fasilitas kesehatan mental yang ada masih terbatas pada layanan dasar rumah sakit jiwa dan puskesmas sehingga pasien yang membutuhkan pemulihan jangka menengah kesulitan untuk bertransisi dan reintegrasi ke dalam masyarakat. Kondisi ini melatarbelakangi gagasan tugas akhir ini yang mengangkat topik arsitektur bernarasi penyembuhan dalam perancangan tipologi pusat rehabilitasi pasien gangguan mental di Bandung. Rancangan pusat rehabilitasi ini merupakan bangunan non-institusional yang berfokus pada aspek psikososial, edukasi, dan inklusi. Topik ini relevan dengan panel SDG 3 (Good Health and Wellbeing), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena proyek ini bertujuan untuk menghadirkan pusat rehabilitasi yang mampu mendukung pemulihan mental dan mengurangi stigma sosial dengan menyediakan ruang publik inklusif beserta edukasi. Gagasan utama yang mendasari tugas ini adalah bagaimana arsitektur dapat berfungsi sebagai narasi penyembuhan sekaligus jembatan transisi sosial bagi pasien dengan gangguan mental.
Framework yang digunakan adalah concept-based approach dengan integrasi healing architecture sebagai pendekatan utama, arsitektur yang berfokus mewadahi kebutuhan psikologi manusia sebagai pendukung landasan desain. Arsitektur diposisikan sebagai narasi pemulihan, dimana bentuk bangunan dan ruang dirancang untuk merepresentasikan perjalanan pasien dari fase rawan menuju reintegrasi sosial. Konsep healing architecture memiliki enam kriteria utama yang diterapkan dan semua merujuk kepada arsitektur penyembuhan, desain inklusif, psikologi lingkungan, dan narasi arsitektur sebagai instrumen penyembuhan. Metodologi perancangannya meliputi studi literatur mengenai teori dan preseden tipologi pusat rehabilitasi, observasi lapangan pada tapak dan institusi kejiwaan yang ada di Bandung, analisis kebutuhan pasien yang dibagi dalam tiga kategori (pascatrauma, gangguan neurotik, dan gangguan psikotik), dan kemudian mengeksplorasi desain iteratif berbasis konsep hingga tercapai skema yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil perancangan berupa pusat rehabilitasi dengan tipologi paviliun dua lantai yang memungkinkan pemisahan zona sesuai kebutuhan pasien. Narasi arsitektur diwujudkan melalui perjalanan spasial, dimana pasien memulai dari area yang privat dan aman, kemudian bergerak ke area semi-privat, hingga akhirnya berinteraksi di ruang publik terbuka. Skema ini merefleksikan proses pemulihan psikologis yang bertahap.
Proyek ini menawarkan model pusat rehabilitasi mental yang tidak berwajah institusional. Kontribusi yang dihasilkan mencakup penciptaan lingkungan yang mendukung pemulihan dan menyiapkan reintegrasi sosial bagi pasien, menciptakan ruang publik inklusif dan mendorong interaksi positif antara masyarakat dan penyintas gangguan mental, dan secara arsitektural menawarkan pusat rehabilitasi dengan penerapan concept-based approach yang dapat menjadi acuan untuk proyek serupa di kota lain.
Perpustakaan Digital ITB