digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Transisi menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi permasalahan limbah di industri tekstil (Jia dkk., 2020). Meskipun demikian, literatur mengenai transisi ekonomi sirkular masih berfokus pada pengelolaan limbah pascakonsumsi di kawasan perkotaan (hilir), sementara dinamika adopsi praktik sirkular di sepanjang rantai pasok yang berada di perdesaan masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tata kelola kewilayahan dan kapasitas sumber daya berperan dalam memengaruhi transisi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik yang mengintegrasikan kerangka Supply Chain Taxonomy, hierarki strategi sirkular 9R, dan Territorial Circular Economy (TCE) dengan kasus studi pada Shibiru sebagai pelaku usaha di hulu rantai pasok batik. Analisis menunjukkan bahwa Shibiru berperan dalam beberapa tingkatan rantai pasok sekaligus (Tier 4 hingga Tier 1) serta sudah menerapkan berbagai strategi 9R meskipun tidak disadari oleh pelaku usahanya. Tata kelola kewilayahan di rantai pasok Shibiru berkembang secara bottomup yang mendorong transisi ekonomi sirkular melalui koordinasi informal, kedekatan geografis, dan kepercayaan antaraktor dalam dukungan institusional formal yang masih terbatas. Kapasitas sumber daya lokal mendukung keberlanjutan transisi ekonomi sirkular melalui inovasi berbasis trial and error, pertukaran pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tenaga kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok perdesaan lebih ditentukan oleh kapasitas adaptif pelaku usaha dan tata kelola kewilayahan daripada kepatuhan regulasi, sehingga diperlukan kebijakan berbasis tempat (place-based policies) yang selaras dengan karakteristik tersebut.