ABSTRAK Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Ahmad Luthfi Hafidudin
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Transisi menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan untuk
mengurangi permasalahan limbah di industri tekstil (Jia dkk., 2020). Meskipun
demikian, literatur mengenai transisi ekonomi sirkular masih berfokus pada
pengelolaan limbah pascakonsumsi di kawasan perkotaan (hilir), sementara
dinamika adopsi praktik sirkular di sepanjang rantai pasok yang berada di perdesaan
masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tata kelola kewilayahan
dan kapasitas sumber daya berperan dalam memengaruhi transisi ekonomi sirkular
di hulu rantai pasok. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik yang mengintegrasikan
kerangka Supply Chain Taxonomy, hierarki strategi sirkular 9R, dan Territorial
Circular Economy (TCE) dengan kasus studi pada Shibiru sebagai pelaku usaha di
hulu rantai pasok batik. Analisis menunjukkan bahwa Shibiru berperan dalam
beberapa tingkatan rantai pasok sekaligus (Tier 4 hingga Tier 1) serta sudah
menerapkan berbagai strategi 9R meskipun tidak disadari oleh pelaku usahanya.
Tata kelola kewilayahan di rantai pasok Shibiru berkembang secara bottomup yang mendorong transisi ekonomi sirkular melalui koordinasi informal,
kedekatan geografis, dan kepercayaan antaraktor dalam dukungan institusional
formal yang masih terbatas. Kapasitas sumber daya lokal mendukung keberlanjutan
transisi ekonomi sirkular melalui inovasi berbasis trial and error, pertukaran
pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tenaga kerja.
Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi ekonomi sirkular di hulu rantai
pasok perdesaan lebih ditentukan oleh kapasitas adaptif pelaku usaha dan tata kelola
kewilayahan daripada kepatuhan regulasi, sehingga diperlukan kebijakan berbasis
tempat (place-based policies) yang selaras dengan karakteristik tersebut.
Perpustakaan Digital ITB