ABSTRAK Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Naura Qotrunnada
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kawasan Mundu-Losari di Kabupaten Cirebon memiliki potensi sebagai kawasan
pengembangan industri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat
bagian timur. Namun, dalam pengembangannya, kawasan ini menghadapi berbagai
risiko mulai dari segi fisik lingkungan, keterjangkauan infrastruktur, serta status
lahan yang dimiliki kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi tingkat kesesuaian lahan Kawasan Peruntukan Industri (KPI)
melalui integrasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Analytic Hierarchy Process
(AHP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan
pengumpulan data melalui penelusuran data sekunder geospasial dan penyebaran
kuesioner AHP terhadap lima pakar untuk pembobotan kriteria. Sebanyak 13
kriteria kesesuaian lahan kawasan industri disusun berdasarkan regulasi teknis,
literatur relevan, dan kerangka klasifikasi kesesuaian lahan Food and Agriculture
Organization (FAO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga kriteria
dengan bobot tertinggi yaitu risiko banjir (12,42%), pola tata guna lahan (12,33%),
dan daya dukung lahan (12,15%). Dari total wilayah seluas 15.276,76 ha,
kesesuaian lahan didominasi oleh kelas cukup sesuai sebesar 44,40%, diikuti oleh
kelas sesuai (38,76%), kelas tidak sesuai (11,86%), kelas sangat sesuai (3,81%),
dan kelas sangat tidak sesuai (0,36%). Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan
Mundu-Losari memiliki kesesuaian lahan yang tinggi untuk fungsi peruntukan
kawasan industri. Hasil tersebut sejalan dengan perbandingan dengan RTRW
Kabupaten Cirebon yang menunjukkan bahwa sebagian besar arahan KPI berada
pada kelas lahan sangat sesuai (1,05%) dan sesuai (44,28%), serta dominansi cukup
sesuai sebesar (51,96%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa arahan KPI dalam
RTRW telah berada pada lahan yang layak dikembangkan sebesar (45,33%),
sedangkan lahan yang tidak layak dikembangkan hanya (2,71%). Tetapi lahan
dengan kondisi cukup sesuai masih mendominasi sehingga masih diperlukan
optimalisasi melalui mitigasi risiko banjir, penyediaan zona penyangga
permukiman, dan pemanfaatan lahan yang mempertimbangkan daya dukung lahan.
Perpustakaan Digital ITB