Kesenjangan pembangunan regional merupakan tantangan fundamental dalam
perencanaan wilayah. Kabupaten Sumedang memiliki kutub inovasi berbasis
pengetahuan yang terkonsentrasi di Kecamatan Jatinangor. Kondisi ini
menjadikannya studi kasus yang relevan untuk mengkaji bagaimana sistem inovasi
kota memengaruhi dinamika ekonomi spasial di tingkat mikro. Penelitian ini
bertujuan menganalisis pengaruh sistem inovasi kota terhadap pengembangan
ekonomi lokal, dengan fokus pada identifikasi pola spasial serta pengukuran efek
langsung dan efek luapan spasial (spillover) antarkecamatan. Menggunakan data
cross-sectional tahun 2024 untuk 26 kecamatan, penelitian ini menerapkan
pendekatan ekonometrika spasial. Pengembangan ekonomi lokal diproksikan oleh
proporsi pekerja modern sebagai ukuran transformasi struktural ketenagakerjaan,
sedangkan variabel independen merepresentasikan pilar-pilar sistem inovasi seperti
modal manusia, infrastruktur digital, dan ekosistem industri. Analisis Spasial
Eksploratif dengan Moran's I dan LISA digunakan untuk mengidentifikasi pola
ketergantungan spasial, sementara Spatial Durbin Model (SDM) dipilih melalui
kerangka theory-first yang diperkuat uji Likelihood Ratio. Hasil penelitian
menunjukkan autokorelasi spasial global yang signifikan (Moran's I = 0,355; p =
0,002), yang berarti proporsi pekerja modern mengelompok secara spasial. Modal
manusia (pendidikan tinggi) dan kepadatan UMKM menjadi pendorong langsung
yang positif dan signifikan. Modal manusia juga menghasilkan luapan positif (efek
total = 1,13), sedangkan konsentrasi UMKM menimbulkan luapan negatif (efek
total = ?0,95) yang mengindikasikan kompetisi spasial, diperkuat nilai rho negatif
(?0,36). Disimpulkan bahwa limpahan modal manusia mendukung difusi
pengetahuan antarwilayah, sementara aktivitas UMKM cenderung terkonsentrasi
dan bersaing secara spasial. Mengingat jumlah unit analisis yang terbatas (26
kecamatan), hasil penelitian ditafsirkan pada tataran arah dan pola
Perpustakaan Digital ITB