digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kesenjangan pembangunan regional merupakan tantangan fundamental dalam perencanaan wilayah. Kabupaten Sumedang memiliki kutub inovasi berbasis pengetahuan yang terkonsentrasi di Kecamatan Jatinangor. Kondisi ini menjadikannya studi kasus yang relevan untuk mengkaji bagaimana sistem inovasi kota memengaruhi dinamika ekonomi spasial di tingkat mikro. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh sistem inovasi kota terhadap pengembangan ekonomi lokal, dengan fokus pada identifikasi pola spasial serta pengukuran efek langsung dan efek luapan spasial (spillover) antarkecamatan. Menggunakan data cross-sectional tahun 2024 untuk 26 kecamatan, penelitian ini menerapkan pendekatan ekonometrika spasial. Pengembangan ekonomi lokal diproksikan oleh proporsi pekerja modern sebagai ukuran transformasi struktural ketenagakerjaan, sedangkan variabel independen merepresentasikan pilar-pilar sistem inovasi seperti modal manusia, infrastruktur digital, dan ekosistem industri. Analisis Spasial Eksploratif dengan Moran's I dan LISA digunakan untuk mengidentifikasi pola ketergantungan spasial, sementara Spatial Durbin Model (SDM) dipilih melalui kerangka theory-first yang diperkuat uji Likelihood Ratio. Hasil penelitian menunjukkan autokorelasi spasial global yang signifikan (Moran's I = 0,355; p = 0,002), yang berarti proporsi pekerja modern mengelompok secara spasial. Modal manusia (pendidikan tinggi) dan kepadatan UMKM menjadi pendorong langsung yang positif dan signifikan. Modal manusia juga menghasilkan luapan positif (efek total = 1,13), sedangkan konsentrasi UMKM menimbulkan luapan negatif (efek total = ?0,95) yang mengindikasikan kompetisi spasial, diperkuat nilai rho negatif (?0,36). Disimpulkan bahwa limpahan modal manusia mendukung difusi pengetahuan antarwilayah, sementara aktivitas UMKM cenderung terkonsentrasi dan bersaing secara spasial. Mengingat jumlah unit analisis yang terbatas (26 kecamatan), hasil penelitian ditafsirkan pada tataran arah dan pola