Kinerja lalu lintas suatu jaringan jalan sangat dipengaruhi oleh arus lalu lintas yang melewati simpang. Simpang bersinyal tiga lengan Area D yang terletak di Jalan Dodoma–Jalan Emaus, Kota Dodoma, Tanzania, merupakan salah satu simpang yang mengalami permasalahan lalu lintas pada jam-jam puncak, khususnya pada hari kerja, sehingga kendaraan harus menghabiskan waktu yang cukup lama saat melintasi simpang ketika sinyal lalu lintas beroperasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja lalu lintas pada kondisi eksisting simpang bersinyal menggunakan US Highway Capacity Manual (US HCM 2010) dan PTV VISSIM Versi 11 selama jam puncak. Survei dilakukan dengan merekam volume lalu lintas pada pukul 06.00–10.00 dan 16.00–18.00, yang mewakili periode puncak pagi dan sore. Komposisi lalu lintas pada periode puncak pagi didominasi oleh kendaraan ringan (46,95%), sepeda motor (33,78%), dan kendaraan berat (19,27%), sedangkan pada periode puncak sore didominasi oleh kendaraan ringan (46,46%), sepeda motor (36,06%), dan kendaraan berat (17,48%). Perbaikan terhadap kondisi eksisting simpang dilakukan menggunakan metode mikro-analitis melalui tiga skenario, yaitu optimasi waktu sinyal, perbaikan geometrik, serta kombinasi optimasi waktu sinyal dan perbaikan geometrik. Berdasarkan metode analitis US HCM 2010, hasil evaluasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa tundaan rata-rata simpang sebesar 55,16 detik/smp pada periode puncak pagi dan 64,92 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata tercatat sebesar 131,2 m pada pagi hari dan 327,4 m pada sore hari. Tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) simpang berada pada LOS E baik pada periode puncak pagi maupun sore. Analisis kondisi eksisting menggunakan metode mikro-analitis dengan perangkat lunak PTV VISSIM Versi 11 terlebih dahulu melalui proses kalibrasi dan validasi model menggunakan statistik GEH untuk memastikan keandalan hasil simulasi sehingga meningkatkan kredibilitas hasil penelitian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tundaan rata-rata simpang sebesar 42,04 detik/smp pada periode puncak pagi dan 51,07 detik/smp pada periode puncak sore. Hasil tersebut menunjukkan bahwa estimasi tundaan menggunakan metode US HCM 2010 lebih tinggi dibandingkan hasil simulasi PTV VISSIM. Perbedaan ini disebabkan karena metode HCM mengasumsikan kondisi lalu lintas yang homogen dan disiplin lajur, sedangkan VISSIM mampu merepresentasikan perilaku lalu lintas yang heterogen serta interaksi antar kendaraan secara lebih realistis. Hasil evaluasi Skenario 1 (Optimasi
v
Waktu Sinyal) menunjukkan bahwa tundaan rata-rata berkurang menjadi 30,04 detik/smp pada periode puncak pagi dan 48,95 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata menurun menjadi 82,22 m dan 207,3 m, dengan tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada pagi hari dan LOS D pada sore hari. Pada Skenario 2 (Perbaikan Geometrik), tundaan rata-rata berkurang menjadi 34,96 detik/smp pada periode puncak pagi dan 47,54 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata masing-masing menjadi 94,25 m dan 296,6 m, sedangkan tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada pagi hari dan LOS D pada sore hari. Pada Skenario 3 (Kombinasi Optimasi Waktu Sinyal dan Perbaikan Geometrik) diperoleh hasil terbaik, dengan tundaan rata-rata sebesar 27,18 detik/smp pada periode puncak pagi maupun sore. Panjang antrean rata-rata berkurang secara signifikan menjadi 29,86 m pada pagi hari dan 89,45 m pada sore hari. Selain itu, tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada kedua periode puncak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario kombinasi memberikan peningkatan kinerja simpang yang paling efektif dibandingkan skenario lainnya, karena mampu menurunkan tundaan dan panjang antrean secara signifikan serta meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional simpang.
Perpustakaan Digital ITB