digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri konstruksi memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap subkontraktor karena sebagian pekerjaan proyek dilaksanakan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan spesialisasi tertentu. Pada PT Hutama Karya (Persero), kinerja subkontraktor masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan proyek. Berdasarkan data internal perusahaan pada 107 proyek periode 2023–2025, permasalahan dominan berkaitan dengan aspek teknis dan desain, sumber daya, serta regulasi dan lingkungan, sedangkan pada kategori sumber daya permasalahan terbesar berasal dari kinerja vendor yang tidak sesuai. Bagi kontraktor utama, risiko tersebut menjadi semakin penting pada subkontraktor pekerjaan utama karena keterlambatan, ketidaksiapan sumber daya, atau masalah cashflow dapat langsung memengaruhi produksi, mutu, waktu, biaya, dan K3 proyek. Penelitian ini bertujuan menganalisis kriteria dan subkriteria yang relevan untuk pemilihan subkontraktor pekerjaan utama, menentukan bobot prioritasnya, serta memvalidasi model penilaian dan template data dokumen penawaran melalui studi kasus. Penelitian dilakukan pada Divisi Sipil Umum PT Hutama Karya (Persero). Kriteria dan subkriteria awal disusun melalui studi literatur dan identifikasi kondisi eksisting perusahaan, kemudian divalidasi menggunakan kuesioner skala Likert. Tujuh responden dipilih secara purposive dengan pengalaman kerja 13–25 tahun dan keterlibatan langsung dalam proses pengadaan serta pengelolaan subkontraktor. Pembobotan dilakukan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) melalui perbandingan berpasangan dengan skala Saaty 1–9. Penilaian responden digabungkan menggunakan rata-rata geometrik dan diuji konsistensinya menggunakan Consistency Ratio (CR). Bobot global subkriteria diterjemahkan ke dalam rubrik skoring 100, 80, 60, 40, dan 0 serta template data dokumen penawaran yang menghubungkan setiap subkriteria dengan bukti yang wajib disampaikan dan diverifikasi. Model kemudian diuji pada PT BRL, PT KLI, dan PT PEP menggunakan data aktual yang tersedia. Hasil penelitian menghasilkan lima kriteria dan dua belas subkriteria. Bobot kriteria adalah Komersial 29,89%, Teknis 24,24%, Manajerial 20,72%, Keuangan 14,99%, dan K3 10,17%. Subkriteria dengan bobot global tertinggi adalah Harga Penawaran/Negosiasi 18,57%, Kemampuan Pengelolaan Proyek 14,33%, Kewajaran Harga 11,32%, Kemampuan Cashflow 10,37%, dan Kemampuan Teknis/Metode Kerja 9,95%. Nilai CR matriks kelompok antar-kriteria sebesar 0,00645 dan subkriteria Teknis sebesar 0,00281, sehingga dinyatakan konsisten. Validasi studi kasus menghasilkan nilai PT BRL 69,89, PT KLI 53,89, dan PT PEP 43,06. Selain menghasilkan peringkat, penerapan model mengidentifikasi kekurangan data yang memerlukan klarifikasi dan menjadi dasar penyusunan template dokumen penawaran terstandar. Kebaruan penelitian tidak terletak pada penggunaan AHP, tetapi pada kontekstualisasi model untuk subkontraktor pekerjaan utama PT Hutama Karya (Persero) dan penerjemahan kriteria menjadi template data, bukti dokumen, status verifikasi, serta rubrik skoring yang dapat digunakan secara operasional. Model ini diharapkan mendukung proses pemilihan yang lebih objektif, terukur, transparan, dan dapat diaudit.