digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengidentifikasi peluang, tantangan, serta kebutuhan penambahan risk premium pada proyek gedung sederhana dengan nilai kontrak di bawah Rp 500 juta yang dilaksanakan menggunakan metode Design-Build (DB) dengan skema kontrak lumpsum. Kontrak lumpsum memberikan kepastian biaya bagi pemilik proyek, namun menempatkan seluruh risiko ketidakpastian desain, perubahan volume, produktivitas tenaga kerja, dan fluktuasi harga material pada kontraktor. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan observasi langsung pada proyek pembangunan ruang kelas SDN Citalaksana, penelitian ini menemukan bahwa peluang utama kontraktor terletak pada kematangan perencanaan, kelengkapan dan kesesuaian gambar, integrasi desain–konstruksi, serta efektivitas komunikasi dalam satu entitas DB. Tantangan utama muncul dari perubahan material, under-estimation volume pekerjaan, deviasi produktivitas, serta risiko harga satuan yang tidak stabil. Untuk mengukur besaran risiko biaya secara kuantitatif, penelitian ini menggunakan simulasi probabilistik Monte Carlo pada enam kelompok pekerjaan: persiapan, struktur bawah, struktur atas, atap, arsitektural, dan MEP. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pekerjaan struktur atas memiliki risiko terbesar dengan probabilitas overrun mencapai 99,88% dan kebutuhan risk premium sebesar 54,83% (P90). Sebaliknya, pekerjaan persiapan, arsitektural, dan MEP menunjukkan estimasi konservatif dengan probabilitas overrun rendah. Secara keseluruhan, proyek serupa dengan nilai kontrak di bawah Rp 500 juta direkomendasikan untuk menambahkan risk premium sebesar 4,36% (P90) atau 5,28% (P95) untuk mencapai tingkat keandalan biaya yang memadai. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi kontraktor kecil dalam menetapkan strategi estimasi biaya, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan pada proyek DB dengan kontrak lumpsum, serta menjadi referensi akademik untuk penelitian lanjutan terkait manajemen risiko konstruksi skala kecil.