digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Azizah Fauziyah Hanifah
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Permasalahan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi ringan pada remaja dan dewasa muda di Kota Bandung semakin meningkat dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kemampuan komunikasi seseorang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, 7,8% diantara masyarakat Jawa Barat merupakan masyarakat berusia diatas 15 tahun yang menderita depresi, Menginjak peringkat ke-9 prevelansi depresi tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya gangguan kesehatan mental ini, dikarenakan fase-fase transisi dan fase burnout yang dialami oleh masyarakat. Stigma masyarakata terhadap pengecekan ke psikolog saat ini cukup buruk, oleh karena itu, kebanyakan masyarakat saat ini memilih melakukan aktivitas pemulihanseperti jalan-jalan ataupun olahraga sebagai solusi atas kondisi stres ataupun depresi mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah wadah sebagai tempat pemulihan yang dapat sekaligus melibatkan proses penyembuhan psikologi didalamnya. Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah terapi yang disebut mind body spirit. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang melibatkan interaksi antara otak, pikiran, tubuh, serta perilaku dan faktor emosional. Pusat Kebugaran ini menawarkan Solusi Kesehatan mental melalui keterlibatan antara tubuh dan pikiran. Kedua faktor itu diterapkan dengan terapi yang memperlambat ritme Gerak dan melibatkan alam dalam aktivitas-aktivitas pemulihan seperti meditasi, yoga, ataupun terapi pijat dan spa yangbersifat ramah, interaktif, dan inklusif. Dalam kondisi gangguan mental, seseorang akan takut dan ragu dalam mengekspresikan diri mereka. Namun, dengan keberadaan pusat kebugaran, seseorang akan diberikan kebebasan dalam bertindak dan mendapatkan pemulihan mental di lingkungan yang tidak terasa seperti klinik. Dengan begitu, Pusat Kebugaran ini akan menjadi solusi untuk design for inclusivity yang menekankan desain yang berkontribusi dalam mengatasi isu aksesibilitas layanan bagi Masyarakat untuk memiliki akses ke ruang aman untuk mengekspresikan diri. Desain ini juga sejalan dengan SDGs 3: Good Health and Well-being dan SDGs 4: Quality Education, Pusat Kebugaran ini berkontribusi dalam Kesehatan mental dan berperan sebagai ruang edukasi non-formal untuk mengajarkan keterampilan kesedaran diri, ketangguhan Masyarakat, dan coping. Perancangan Pusat kebugaran ini melibatkan beberapa metode, yaitu studi literatur dan observasi lapangan untuk mengumpulkan data, metode desain trendspotting yang menyesuaikan bangunan dengan tren terkini supaya relevan dengan target pengguna, dan sintesis desain untuk merumuskan konsep ruang yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu bangunan.