digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri otomotif Indonesia saat ini berada dalam fase transisi menuju eletrifikasi dengan battery electric vehicle (BEV) sebagai fokus utama pengembangan. Meskipun pertumbuhan penjualan BEV menunjukkan tren yang meningkat, pasar otomotif nasional masih didominasi oleh kendaraan berbasis internal combustion engine (ICE) dan tingkat persaingan yang tinggi antarprodusen BEV. Selain itu, berakhirnya insentif pemerintah pada tahun 2025 juga menandai pergeseran dinamika pasar dengan keberhasilan produk semakin ditentukan oleh kemampuan produsen dalam merancang produk yang sesuai dengan preferensi konsumen, Oleh karena itu, pemahaman terhadap preferensi dan segmentasi konsumen diperlukan dalam merumuskan strategi pemasaran yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan preferensi responden terhadap atribut BEV, mengidentifikasi segmentasi konsumen berdasarkan pola preferensi dan kategori adopter, serta menyusun strategi pemasaran yang relevan bagi pelaku industri. Atribut yang dianalisis meliputi ketahanan baterai, harga, tingkat keselamatan, konsumsi energi, dan akses ke layanan servis. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan choice-based conjoint analysis (CBCA) untuk mengestimasi nilai utilitas, tingkat kepentingan atribut, serta analisis klaster untuk mengidentifikasi segmentasi pasar. Data diperoleh melalui survei daring terhadap 197 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan baterai merupakan atribut yang paling berpengaruh dalam preferensi konsumen, diikuti oleh akses layanan servis, keselamatan, dan harga, sementara konsumsi energi memiliki pengaruh paling rendah. Analisis klaster menghasilkan dua segmen utama, yaitu Value-Oriented Pragmatists yang berorientasi pada nilai ekonomis dan memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi, serta Risk-Averse Safekeepers yang menekankan aspek keamanan, keandalan, dan kemudahan layanan. Kedua segmen didominasi oleh kategori early majority dan late majority, yang menunjukkan bahwa pasar BEV Indonesia berada pada tahap adopsi arus utama. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran perlu beralih dari penekanan pada kebaruan teknologi menuju pembuktian manfaat dan pengurangan risiko. Pendekatan yang disarankan adalah pengembangan portofolio produk dengan inti yang serupa dan diferensiasi pada proposisi nilai, yaitu value assurance untuk segmen berorientasi ekonomis dan reassurance untuk segmen yang lebih sensitif terhadap risiko. Selain itu, strategi pemasaran perlu didukung oleh penyederhanaan pengalaman penggunaan, pengalaman langsung, serta penguatan bukti sosial untuk mendorong adopsi yang lebih luas.