Minuman herbal memiliki potensi pasar yang terus meningkat seiring dengan
meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Namun, penerimaan
pasar terhadap produk minuman herbal di Indonesia masih dipengaruhi berbagai
faktor yang belum banyak di kaji pada penelitian meliputi tingkat pengetahuan
konsumen, pola konsumsi, preferensi atribut produk, efektivitas pemasaran melalui
media sosial, serta distribusi produk minuman herbal. Penelitian ini bertujuan untuk
melakukan eksplorasi preferensi konsumen terhadap produk minuman herbal dan
peran jenis media sosial dalam meningkatkan penerimaan pasar di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Data
dikumpulkan melalui survei daring di platform Populix (lembaga survei
independen) pada 386 responden ?18 tahun yang telah menyetujui informed
consent di Indonesia. Analisis preferensi atribut produk dilakukan menggunakan
metode choice-based conjoint (CBC) dengan estimasi model multinomial logit
(MNL) untuk mengukur nilai utilitas, kepentingan relatif, kesediaan membayar
(willingness to pay), simulasi pangsa pasar, dan elastisitas harga. Atribut produk
yang dianalisis meliputi harga, kepemilikan merek, informasi pada label, tipe
kantong teh, dan rasa. Selain itu, dilakukan analisis tingkat pengetahuan, pola
konsumsi, preferensi media sosial sebagai sarana pemasaran, serta preferensi
tempat memperolah produk minuman herbal berdasarkan kelompok umur.
iii
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap
produk minuman herbal sangat tinggi (99,74%), namun pola konsumsi produk
minuman herbal masih tergolong rendah pada semua kelompok umur berada pada
tangka konsumsi ringan (<1 gelas/bulan dan 1-3 gelas/bulan). Atribut produk yang
paling memengaruhi preferensi konsumen adalah harga, diikuti oleh kepemilikan
merek dan tipe kantong teh. Harga Rp20.000,- per kemasan merupakan tingkat
harga yang paling disukai, sementara kepemilikan merek yang telah dikenal luas
memberikan nilai utilitas dan kesediaan membayar tertinggi. Tipe kantoh teh
dengan tali serta pencantuman informasi komposisi pada label meningkatkan
preferensi konsumen. Sedangkan rasa original cenderung kurang disukai
dibandingkan varian rasa buah. Media sosial, khususnya TikTok, berperan penting
dalam meningkatkan pengenalan produk, membangun kepercayaan, dan
memengaruhi keputusan pembelian konsumen pada produk minuman herbal. Toko
organik menjadi saluran distribusi yang paling diminati oleh seluruh kelompok
usia.
Secara keseluruhan, penelitian ini menggambarkan penerimaan pasar minuman
herbal dapat ditingkatkan melalui kombinasi atribut produk yang sesuai dengan
preferensi konsumen, strategi harga yang tepat, pemanfaatan media sosial secara
efektif, serta pemilihan saluran distribusi yang dipercaya konsumen. Temuan ini
diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pemasaran dan inovasi
produk minuman herbal di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB