digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Minuman herbal memiliki potensi pasar yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Namun, penerimaan pasar terhadap produk minuman herbal di Indonesia masih dipengaruhi berbagai faktor yang belum banyak di kaji pada penelitian meliputi tingkat pengetahuan konsumen, pola konsumsi, preferensi atribut produk, efektivitas pemasaran melalui media sosial, serta distribusi produk minuman herbal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi preferensi konsumen terhadap produk minuman herbal dan peran jenis media sosial dalam meningkatkan penerimaan pasar di Indonesia. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Data dikumpulkan melalui survei daring di platform Populix (lembaga survei independen) pada 386 responden ?18 tahun yang telah menyetujui informed consent di Indonesia. Analisis preferensi atribut produk dilakukan menggunakan metode choice-based conjoint (CBC) dengan estimasi model multinomial logit (MNL) untuk mengukur nilai utilitas, kepentingan relatif, kesediaan membayar (willingness to pay), simulasi pangsa pasar, dan elastisitas harga. Atribut produk yang dianalisis meliputi harga, kepemilikan merek, informasi pada label, tipe kantong teh, dan rasa. Selain itu, dilakukan analisis tingkat pengetahuan, pola konsumsi, preferensi media sosial sebagai sarana pemasaran, serta preferensi tempat memperolah produk minuman herbal berdasarkan kelompok umur. iii Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap produk minuman herbal sangat tinggi (99,74%), namun pola konsumsi produk minuman herbal masih tergolong rendah pada semua kelompok umur berada pada tangka konsumsi ringan (<1 gelas/bulan dan 1-3 gelas/bulan). Atribut produk yang paling memengaruhi preferensi konsumen adalah harga, diikuti oleh kepemilikan merek dan tipe kantong teh. Harga Rp20.000,- per kemasan merupakan tingkat harga yang paling disukai, sementara kepemilikan merek yang telah dikenal luas memberikan nilai utilitas dan kesediaan membayar tertinggi. Tipe kantoh teh dengan tali serta pencantuman informasi komposisi pada label meningkatkan preferensi konsumen. Sedangkan rasa original cenderung kurang disukai dibandingkan varian rasa buah. Media sosial, khususnya TikTok, berperan penting dalam meningkatkan pengenalan produk, membangun kepercayaan, dan memengaruhi keputusan pembelian konsumen pada produk minuman herbal. Toko organik menjadi saluran distribusi yang paling diminati oleh seluruh kelompok usia. Secara keseluruhan, penelitian ini menggambarkan penerimaan pasar minuman herbal dapat ditingkatkan melalui kombinasi atribut produk yang sesuai dengan preferensi konsumen, strategi harga yang tepat, pemanfaatan media sosial secara efektif, serta pemilihan saluran distribusi yang dipercaya konsumen. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pemasaran dan inovasi produk minuman herbal di Indonesia.