Museum Nasional Indonesia merupakan salah satu museum tertua di Indonesia, yang
menyimpan kurang lebih 190.000 benda-benda/objek sejarah yang terdiri atas 7 jenis koleksi
yang terbagi kedalam 2 gedung, yang dinamakan gedung A dan gedung B. Area Gedung A
merupakan bangunan bersejarah di dalam Gedung A, menjadikannya sebuah cagar budaya
yang dipertahankan oleh museum. Area gedung A memuatsegmen pameran tetap arca Hindu
ruang pamer dan wahana ImersifA. Museum Nasional juga telah dilengkapi dengan gedung
penyimpanan atau storage untuk menyimpan benda-benda budaya. Untuk mempermudah
pengunjung dalam mengakses ruangan-ruangan tersebut, maka kehadiran sign system
bersifat penting. Perancangan ini dilakukan untuk membantu menjawab permasalahan sign
system, serta menyediakan informasi seputar koleksi yang ada di Museum Nasional
Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan
menggabungkan wawancara, observasi langsung, dan kajian pustaka sebagai metode
pengumpulan data. Metode perancangan yang digunakan meliputi metode Design Thinking,
melalui pengembangannya menjadi prinsip perancangan sign system oleh Ali Weiss. Hasil
akhir yang ingin dicapai dalam perancangan berupa Main sign yang menggabungkan fungsi
Orientational dan Directional sign, Identificational sign, Informational sign (dalam format
digital dan juga cetak untuk koleksi Rotunda), dan juga Statutory sign.
Perpustakaan Digital ITB