digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Melis Muhlisoh
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Terasering Panyaweuyan di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka merupakan kawasan agrikultur dataran tinggi dengan karakter topografi curam (kemiringan hingga 45%) yang memiliki potensi besar sebagai kawasan agrowisata. Namun, praktik pertanian konvensional berupa teras bangku dengan tanaman hortikultura pada lahan curam berkontribusi terhadap tingginya risiko erosi dan degradasi tanah. Di sisi lain, aktivitas pariwisata yang berkembang masih bersifat visual dan belum terintegrasi dengan sistem pertanian serta konservasi lahan yang ada. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi arsitektur yang mampu meningkatkan nilai sosial-ekonomi kawasan tanpa memperbesar risiko kerusakan lereng. Perancangan ini bertujuan merumuskan konsep pusat agrowisata pada lahan curam melalui pemanfaatan konstruksi bambu sebagai lightweight material yang adaptif terhadap kondisi topografi dan ekologi tapak. Pendekatan yang digunakan adalah sustainable slope design dan bamboo architectural system dengan metode perancangan arsitektur berbasis analisis topografi, klimatologi, hidrologi, karakteristik tanah Andosol, serta kajian literatur dan preseden terkait pembangunan pada lahan miring dan konstruksi bambu. Hasil perancangan menghasilkan konfigurasi kawasan bertingkat yang mengikuti kontur lereng melalui pembagian strategi ground terrace, water terrace, dan construction terrace. Massa bangunan dirancang sebagai struktur panggung dengan sistem pondasi titik (bore pile) untuk meminimalkan pemotongan tanah dan menjaga stabilitas lereng. Sistem konstruksi bambu diterapkan dengan sambungan fleksibel dan prinsip preservation by design guna merespons pergerakan tanah, beban angin, serta kondisi iklim lembab. Pengelolaan air hujan dilakukan melalui integrasi rainwater harvesting, bioswale, kolam retensi, dan drainase berlapis untuk mereduksi aliran permukaan dan kejenuhan tanah. Selain itu, penerapan Vetiver Grass Technology berfungsi sebagai elemen stabilisasi lereng berbasis vegetasi. Perancangan ini menunjukkan bahwa integrasi material bambu, strategi pengelolaan air, dan konfigurasi bangunan yang mengikuti kontur dapat menjadi model pengembangan pusat agrowisata berkelanjutan yang adaptif terhadap tantangan geografis lahan curam.