digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB I - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB VI - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN - Rafi Valencio Rahman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Patimban menghadapi peningkatan permintaan daya listrik akibat besarnya skala aktivitas operasional, dengan kebutuhan listrik tahunan yang diproyeksikan mencapai 38,86 GWh pada tahap pengembangan akhir. Walaupun pemerintah Indonesia berkomitmen pada konsep "Green Port", yang mana memprioritaskan energi berkelanjutan untuk mengurangi emisi, pasokan listrik saat ini masih sangat bergantung pada sumber bahan bakar fosil. Situasi ini menciptakan konflik manajemen energi bagi kegiatan operasional Pelabuhan Patimban. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, studi ini mengusulkan pembangkit listrik tenaga surya terapung (Floating Photovoltaic/FPV) berkapasitas 78,6 MWp. Tata letak yang diusulkan terdiri dari 20 pulau terapung yang dikategorikan ke dalam tiga tipe berbeda: enam pulau masing-masing berkapasitas 3,09 MWp, tujuh pulau berkapasitas 3,64 MWp, dan tujuh pulau berkapasitas 4,93 MWp. Penempatan pulau-pulau ini secara khusus mempertimbangkan alur navigasi maintenance boat untuk memastikan akses operasional yang efisien. Kelayakan desain ini dievaluasi menggunakan simulasi numerik, di mana setiap pulau PV terapung dimodelkan sebagai rigid body yang dirangkai dari beberapa jenis modul floater yang tersedia. Pertama, karakteristik hidrodinamika struktur dimodelkan menggunakan OrcaWave, sebuah perangkat lunak berbasis boundary element method (BEM). Setiap pulau kemudian dikenakan beban lingkungan yang berasal dari angin, arus, serta gelombang air laut, baik first-order maupun second-order wave. Gaya ini dihitung secara analitis dan diaplikasikan sebagai beban titik (point load) selama simulasi dinamis di OrcaFlex. Sistem penambatan (station-keeping) menggunakan material polyester berdiameter 18 mm untuk mengamankan struktur. Analisis difokuskan pada faktor-faktor kritis seperti offset pulau dan tegangan tali tambat (mooring tension) untuk memastikan struktur tetap stabil dan mematuhi standar yang relevan. Terakhir, gaya reaksi yang dihasilkan pada dasar laut akibat mooring dianalisis untuk merancang angkur pemberat (deadweight anchors) dengan mempertimbangkan kriteria spesifik untuk stabilitas vertikal, lateral, guling (overturning), dan daya dukung tanah (bearing capacity).