Sektor energi global sedang mengalami transformasi seiring negara-negara berupaya menerapkan transisi energi ke energi terbarukan. Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam Perjanjian Paris dan berkomitmen untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2060. Namun, pengembangan proyek energi terbarukan, khususnya panas bumi memiliki tantangan yang tinggi karena biaya awal yang tinggi, dan risiko eksplorasi. PT Energi Panas Indonesia (EPI), anak perusahaan PT Indonesia Power, menghadapi tantangan dalam memastikan pendapatan yang stabil sekaligus mendukung transisi energi nasional. Energi surya fotovoltaik (PV) telah muncul sebagai solusi potensial karena biaya modalnya yang relatif rendah, waktu konstruksi yang singkat, serta risiko teknis dan sosial yang lebih rendah.
Studi ini menganalisis kelayakan ekonomi, struktur pembiayaan, dan model bisnis strategis untuk pengembangan PLTS dalam berbagai skema proyek guna meningkatkan pendapatan berkelanjutan EPI. Penelitian ini berfokus pada proyek PLTS yang berlokasi di Jawa Barat, menggunakan model Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan Build-Own-Operate-Transfer (BOOT) dengan durasi 15 tahun dan 25 tahun. Tujuannya adalah: (1) menilai kelayakan finansial proyek menggunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP); (2) menentukan variabel paling sensitif yang memengaruhi kelayakan proyek; (3) mengidentifikasi sumber pembiayaan yang tersedia; (4) merekomendasikan strategi pembiayaan yang optimal; dan (5) menyarankan model bisnis terbaik untuk mempertahankan pendapatan jangka panjang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan keuangan kuantitatif, yang mengintegrasikan analisis penganggaran modal, analisis sensitivitas, dan kerangka kerja Indeks US’ untuk mengevaluasi optimalisasi utang-ekuitas. Data diperoleh dari asumsi internal perusahaan dan tolok ukur industri, termasuk proyeksi CAPEX, OPEX, dan tarif energi. Analisis ini membandingkan skema EPC, BOOT 15 tahun, dan BOOT 25 tahun menggunakan parameter keuangan yang identik, dengan menerapkan Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) sebesar 7,38% dan tingkat inflasi sebesar 2,37%.
Hasilnya menunjukkan bahwa kedua skema BOOT layak secara finansial dengan nilai NPV dan IRR positif di atas WACC. Skema BOOT 25 tahun memberikan laba kumulatif tertinggi dan stabilitas pendapatan jangka panjang, sementara skema BOOT 15 tahun menawarkan pemulihan modal yang lebih cepat dan fleksibilitas untuk investasi ulang. Skema EPC, sebaliknya, hanya menghasilkan pendapatan jangka pendek dan satu kali. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa tarif listrik adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kelayakan proyek, diikuti oleh efisiensi system dari pembangkitan tenaga listrik. Analisis pembiayaan mengidentifikasi empat opsi pendanaan utama—ekuitas internal, pinjaman bank domestik, pinjaman internasional, dan leasing—masing-masing dengan biaya dan risiko yang bervariasi. Hasil Indeks US mengonfirmasi bahwa EPI memiliki kemampuan pembayaran yang kuat, yang memungkinkan perusahaan untuk mengakses leverage secara hati-hati sambil mempertahankan struktur modal yang seimbang.
Penelitian ini berkontribusi pada pengambilan keputusan manajerial dengan menyediakan kerangka kerja kuantitatif untuk menilai kelayakan proyek energi terbarukan di berbagai model bisnis dalam konteks regulasi dan keuangan Indonesia. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya proyek PLTS sebagai bisnis transisi seiring dengan perkembangan pengembangan panas bumi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas analisis dengan mengeksplorasi konfigurasi energi terbarukan hibrida (surya + baterai atau surya + panas bumi) dan mengevaluasi kebijakan baru seperti penetapan harga karbon dan sertifikat energi terbarukan untuk memperkuat kelayakan finansial investasi energi terbarukan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB