Sektor pariwisata memegang peranan krusial dalam pembangunan nasional, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pengembangan pariwisata diarahkan pada pendekatan berkelanjutan yang mengintegrasikan fungsi edukatif dan ekonomi berbasis potensi lokal. Kabupaten Bone, sebagai salah satu daerah terluas di Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki potensi besar baik di sektor pariwisata dengan total kunjungan sebesar 83.957 kunjungan. Aktivitas pariwisata utamanya berpusat di Tanjung Pallette dan menjadi kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi di Kabupaten Bone yaitu 37.700 kunjungan pada tahun 2021.
Selain memiliki potensi besar di sektor pariwisata, Kabupaten Bone juga memiliki potensi besar budidaya rumput laut. Pada tahun 2023, budidaya rumput laut Kabupaten Bone mencapai 416 ribu ton dengan nilai jual yang signifikan. Tanjung Pallette sebagai kawasan wisata juga menjadi tempat budidaya rumput dan menjadi mata pencaharian bagi 90% masyarakat lokal yang ada disana. Namun, aktivitas budidaya tersebut justru menjadi masalah bagi sektor pariwisata. Hal ini terjadi karena pengembangan kawasan wisata Tanjung Pallette tidak sesuai dengan karakteristik kawasan dan ketiadaan integrasi antara aktivitas pariwisata yang berpusat di Tanjung Pallette dengan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh mayoritas penduduk setempat. Selain itu, tidak ada keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal terhadap aktivitas pariwisata.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebuah solusi yang dapat menyatukan sektor pariwisata dan budidaya rumput laut demi menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan serta memperkuat pengembangan karakteristik kawasan wisata Tanjung Pallette. Untuk itu, tesis ini berfokus pada perancangan fasilitas eduwisata budidaya rumput laut di Tanjung Pallette. Fasilitas ini dirancang untuk menjadi jembatan yang menyatukan pariwisata dengan aktivitas budidaya rumput laut. Tujuannya adalah menciptakan destinasi wisata yang unik tanpa menghilangkan aktivitas budidaya, memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung bagi masyarakat lokal, serta memberikan pengalaman edukatif bagi wisatawan agar dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan proses budidaya rumput laut dari awal hingga akhir.
Perancangan ini menggunakan pendekatan Community Based Tourism (CBT). Dengan pendekatan ini, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek utama dalam pengelolaan pariwisata. Keterlibatan aktif masyarakat lokal mulai dari proses perencanaan hingga operasional agar menumbuhkan rasa kepemilikan dan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara langsung dan merata. Pendekatan ini juga memastikan keberlanjutan sosial dan lingkungan, di mana praktik budidaya rumput laut dan aktivitas pariwisata dapat saling mendukung tanpa merusak ekosistem pesisir.
Secara keseluruhan, perancangan fasilitas eduwisata ini bertujuan untuk menciptakan model pariwisata yang terpadu dan berkelanjutan. Fasilitas ini akan menjadikan budidaya rumput laut dari pengganggu pariwisata menjadi daya tarik utama. Dampaknya diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Tanjung Pallette, serta menjadikan Kabupaten Bone sebagai contoh pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal.
Perpustakaan Digital ITB