Transformasi menuju transportasi publik yang berkelanjutan melalui
pengembangan bus listrik di berbagai kota Indonesia membuka peluang untuk
meningkatkan aksesibilitas mobilitas perkotaan. Namun, desain bus perkotaan yang
ada masih belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pengguna kursi roda, terutama
pada aspek kemudahan naik–turun kendaraan, ruang manuver, dan stabilitas tubuh
selama berada di dalam bus. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bus listrik
medium low floor yang lebih inklusif dengan mempertimbangkan interaksi antara
desain ruang kendaraan, gerakan tubuh pengguna, serta alur aktivitas saat
mengakses bus. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran yang
meliputi studi literatur, observasi lapangan pada beberapa kota, kuesioner
pengalaman penumpang, wawancara pengguna kursi roda, proses perancangan
desain, serta pengujian mockup skala 1:1 menggunakan analisis biomekanika tubuh
dan evaluasi persepsi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
ramp yang lebih landai, ruang manuver yang lebih luas, serta penataan elemen
interior yang ergonomis mampu meningkatkan performa aksesibilitas secara
signifikan, ditunjukkan oleh peningkatan efisiensi waktu aktivitas dengan
penurunan berkisar antara sekitar 30% hingga hampir 50%, pengurangan beban
biomekanika tubuh sebesar sekitar 45–50%, serta peningkatan stabilitas gerakan
pengguna. Pengujian mockup juga menunjukkan peningkatan signifikan pada
keberhasilan aktivitas naik ramp, serta persepsi pengguna yang lebih positif
terhadap aspek keamanan, kemudahan, dan kemandirian. Penelitian ini
menegaskan bahwa desain bus yang inklusif tidak hanya bergantung pada
penyediaan fasilitas aksesibilitas, tetapi pada integrasi antara ergonomi tubuh,
stabilitas gerakan, dan rangkaian aktivitas pengguna. Temuan ini menunjukkan
bahwa pendekatan perancangan berbasis biomekanika dan aktivitas pengguna dapat
menjadi dasar dalam pengembangan desain bus perkotaan yang lebih aksesibel,
efisien, dan inklusif di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB