Fenomena hubungan parasosial—relasi satu arah antara audiens dan figur publik yang dimediasi
media digital—kian menguat seiring dominasi media sosial yang memungkinkan pengguna merasa
dekat, mengenal, dan terhubung secara emosional dengan sosok yang sebenarnya tidak mereka
jumpai secara langsung. Dalam keseharian dewasa muda, kedekatan ini memberi rasa ditemani,
validasi, serta inspirasi, tetapi juga menyimpan risiko ketergantungan emosional, perbandingan sosial,
dan kaburnya batas antara kedekatan nyata dan imajiner. Berangkat dari kondisi tersebut,
perancangan ini menghadirkan medium alternatif berupa buku eksperimental yang memperlambat
ritme konsumsi dibanding layar digital, menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur,
wawancara psikolog, dan kuesioner kepada dewasa muda untuk memetakan bagaimana hubungan
parasosial dialami secara ambivalen—adaptif ketika membantu regulasi emosi dan rasa memiliki,
tetapi problematis ketika mengganggu fungsi sehari-hari. Hasil temuan kemudian diterjemahkan ke
dalam buku analog yang menggabungkan teks singkat, visual metaforis, tata letak non-linear, dan
eksplorasi material taktil agar pembaca dapat merefleksikan ulang pola kedekatan, manfaat, dan batas
sehat dalam hubungan parasosial, sekaligus memperluas peran desain grafis sebagai sarana
psikoedukasi reflektif di tengah lanskap interaksi digital yang serba cepat.
Perpustakaan Digital ITB