Non-Revenue Water (NRW) masih menjadi tantangan bagi PDAM karena berkaitan
dengan kehilangan air fisik dan komersial, efisiensi operasi, serta keberlanjutan
pelayanan. Teknologi digital dapat mendukung pengendalian NRW, tetapi proses
implementasinya masih diperhadapkan dengan sejumlah tantangan, termasuk dari
kapabilitas dan perencanaan dari PDAM itu sendiri, yang membuat strategi tersebut
tidak sepenuhnya optimal dan tepat untuk diterapkan di setiap utilitas air. Penelitian
ini bertujuan menyusun framework penetapan prioritas implementasi teknologi
digital untuk PDAM dalam rangka mengurangi NRW. Penelitian menggunakan
pendekatan mixed-method dengan PDAM Kota Bandung sebagai tinjauan utama,
PDAM Kota Malang sebagai benchmarking, serta PDAM Cimahi sebagai
penunjang analisis. Penetapan prioritas dilakukan dengan mengintegrasikan
kesiapan internal (Ri) yang dinilai menggunakan Consolidated Framework for
Implementation Research (CFIR), dampak teknologi terhadap NRW (Di),
kelayakan finansial masing-masing teknologi (Fi), serta ketergantungan dan
prasyarat antarteknologi (Ki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan prioritas
teknologi untuk kehilangan air fisik meliputi GIS, flow sensor, meter induk, leak
detector, pressure sensor, dan PRV, sedangkan pada kehilangan air komersial, CIS
- billing system memiliki prioritas lebih tinggi dibandingkan smart water meter.
Hasil tersebut selanjutnya disusun dalam framework yang mengarahkan
implementasi secara bertahap, mulai dari penguatan fondasi data dan proses,
penguatan monitoring dan respons operasional, hingga integrasi dan optimasi
sistem. Nilai prioritas yang diperoleh bersifat relatif terhadap kriteria, bobot, dan
kondisi yang digunakan dalam penilaian, sehingga penerapan framework pada
PDAM lain memerlukan penyesuaian terhadap kondisi aktual masing-masing
utilitas.
Perpustakaan Digital ITB