Sepatu hak tinggi banyak digunakan oleh pekerja perempuan sebagai bagian dari
penampilan profesional, khususnya di sektor layanan publik dan perhotelan.
Namun, penggunaannya dalam durasi panjang menimbulkan risiko gangguan
muskuloskeletal yang signifikan meliputi nyeri kaki, lutut, dan punggung bawah
akibat perubahan postur tubuh dan pola berjalan yang tidak alami. Data BPS (2024)
menunjukkan bahwa pekerja perempuan di sektor jasa Indonesia, yang mencakup
54,6% dari total angkatan kerja perempuan nasional, rata-rata bekerja 45,1 jam per
minggu, dengan durasi berdiri hingga 7–9 jam per hari sambil mengenakan alas
kaki yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan merancang sepatu hak tinggi
konvertibel berbasis ergonomi yang mampu menjawab kebutuhan fungsional,
kenyamanan jangka panjang, serta tuntutan estetika profesional pekerja perempuan.
Pendekatan kualitatif berbasis user-centered design digunakan melalui observasi
lapangan etnografis, wawancara terstruktur dengan lima pekerja perempuan berusia
20–45 tahun di sektor jasa, konsultasi ahli dengan praktisi senior industri sepatu,
serta tinjauan literatur dan produk eksisting. Temuan lapangan mengidentifikasi
tiga pain point utama: (1) nyeri fisik akibat distribusi beban yang tidak merata dan
desain toe box yang sempit, menyebabkan lecet pada tumit, ketegangan otot betis,
dan nyeri punggung bawah; (2) penurunan stabilitas pola berjalan dan pemendekan
langkah setelah pemakaian berkepanjangan; serta (3) ketidakpraktisan membawa
alas kaki cadangan. Temuan ini diperkuat oleh literatur yang mengkonfirmasi
bahwa penggunaan sepatu hak tinggi secara rutin meningkatkan tekanan plantar di
area metatarsal secara signifikan, mengurangi rentang gerak pergelangan kaki, dan
meningkatkan risiko jatuh hingga 40% pada perempuan usia kerja. Solusi desain
yang dikembangkan adalah prototipe sepatu konvertibel yang memungkinkan
pengguna beralih secara efisien antara mode hak tinggi profesional (maksimal 5
cm) dan mode flat untuk istirahat atau aktivitas dinamis. Desain mengintegrasikan
berbagai prinsip ergonomi, meliputi toe box luas, dukungan lengkung telapak,
bantalan forefoot, lebar dasar hak ?2–3 cm, serta sudut kemiringan hak kurang dari
15°. Mekanisme konversi dirancang agar andal, intuitif, dan tidak mengorbankan
estetika profesional sepatu, dengan siluet yang ramping dan material yang
breathable. Diharapkan solusi ini dapat menjadi alternatif yang inklusif dan
berorientasi kesehatan, mendukung kesejahteraan fisik pekerja perempuan
sekaligus menjaga citra profesional mereka dalam lingkungan kerja modern.
Perpustakaan Digital ITB