Prediksi Soil-Water Characteristic Curve (SWCC) yang mencakup kurva drying, wetting, dan Scanning sangat penting dalam mekanika tanah tak jenuh. Namun, metode analitik terdahulu memiliki keterbatasan: penentuan parameter memerlukan data kedua kurva utama secara bersamaan, serta validasi terbatas pada satu jenis tanah. Penelitian ini bertujuan menyempurnakan metode tersebut agar prediksi cukup dilakukan dengan satu kurva acuan, sekaligus memperluas ruang lingkup validasi pada 24 jenis tanah (18 nonkohesif dan 6 kohesif). Metode semi-empiris memanfaatkan rasio empiris dan nilai RSL dari literatur untuk memprediksi kurva utama, sementara Scanning curve diprediksi melalui fungsi pergeseran horizontal dan fungsi tangen hiperbolik.
Hasil penelitian menunjukkan metode analitik berakurasi tinggi pada tanah dengan entrapped air kecil, namun menurun pada entrapped air besar dan mayoritas prediksi melanggar prinsip histeresis. Metode semi-empiris memberikan hasil fluktuatif pada tanah nonkohesif; akurasi tertinggi pada Molonglo Sand dan terendah pada Porous Body II. Rasio Kool terbukti lebih baik daripada Likos dkk pada tanah nonkohesif, sedangkan keduanya baik pada tanah kohesif. Evaluasi Scanning curve pada Adelaide Dune Sand juga menunjukkan kelemahan formula parameter kelengkungan yang teratasi melalui penyesuaian nilai empiris. Selain itu, ditemukan bahwa nilai residual suction hasil curve fitting tidak merepresentasikan kondisi fisik yang sesuai, sehingga pendekatan grafis diperlukan untuk memperoleh nilai yang lebih realistis.
Secara keseluruhan, rasio empiris dan formula kelengkungan kurva Scanning saat ini belum mampu memprediksi secara universal. Oleh karena itu, pengembangan
formulasi baru yang mengorelasikan parameter tersebut dengan karakteristik fisik material direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya.
Perpustakaan Digital ITB