Dinding bata terkekang merupakan elemen yang banyak digunakan pada rumah sederhana di Indonesia. Meskipun elemen mampu memikul beban lateral akibat gempa, kenyataannya di lapangan dinding kerap menunjukkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi setiap kali terjadi gempa, karena seringkali dianggap sebagai elemen non-struktural, dan tidak didesain sesuai standar. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memeriksa kapasitas adalah dengan membuat model rumah dengan dinding yang akan dibangun. Namun, keterbatasan waktu di lapangan membuat analisis model rumah kurang efektif. Hal ini membuat diperlukannya metode penilaian cepat yang dapat digunakan di lapangan, umumnya perhitungan dengan excel. Akan tetapi, metode ini juga mengalami masalah dimana perhitungan yang dilakukan di excel mengasumsikan bahwa dinding mencapai kapasitas maksimumnya bersamaan. Hal ini sangat jarang terjadi pada kondisi nyata, sehingga diperlukan suatu nilai pengali agar hasil analisis excel memperhitungkan kondisi nyata. Studi eksperimental pada penelitian ini meliputi 5 denah untuk rumah lantai 1 untuk merepresentasikan diafragma fleksibel dan rumah lantai 2 untuk merepresentasikan diafragma kaku dengan mutu bahan yang sama. Model dimodelkan dalam ETABS dengan dinding bata terkekang sebagai strut 1 arah dengan basis pemodelan yaitu equivalent truss model (ETM). Model backbone curve digunakan untuk analisis non-linear dalam bentuk pushover. Model backbone curve berupa kurva trilinear dengan tiga titik: crack, maksimum, dan ultimate. Hasil yang didapat dari pushover setiap spesimen dibandingkan dengan hasil perhitungan kapasitas ETABS, kemudian dilakukan distribusi normal. Hasil analisis
menghasilkan nilai faktor efektivitas gabungan panel dinding untuk diafragma fleksibel adalah 0.9, dan 0.8 untuk diafragma kaku.
Perpustakaan Digital ITB