Magnitudo mutlak (H) adalah parameter astronomi fundamental yang merepresentasikan
kecerlangan intrinsik suatu benda langit. Untuk asteroid, nilai
H menjadi sangat penting karena digunakan untuk menurunkan parameter fisis
diameter, yang diperlukan dalam banyak aplikasi praktis seperti distribusi
ukuran dan properti fisis populasi asteroid. Estimasi nilai H dari magnitudo
tampak memerlukan pendekatan matematis yang kompleks guna mengompensasi
fluktuasi akibat jarak geometris dan sudut fase orbit, khususnya akibat
lonjakan kecerlangan non-linear dari efek oposisi di daerah sudut fase orbit
kecil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan pipeline
komputasi numerik berbasis bahasa pemrograman Python untuk mengotomatisasi
pemrosesan data fotometri deret waktu serta menghitung parameter
kurva fase asteroid menggunakan model fungsi fase tiga parameter (H–G1–G2).
Alur pemrosesan data diawali dengan interpolasi data efemeris, yang dilanjutkan
dengan pengelompokan data observasi berdasarkan rentang sudut fase
orbit menggunakan metode binning seragam dan algoritma Ck-means. Estimasi
periode rotasi dilakukan melalui analisis spektral periodogram Lomb-
Scargle. Morfologi kurva cahaya dari setiap kelompok sudut fase kemudian
dicocokkan menggunakan deret Fourier untuk menghitung nilai magnitudo
representatif (a0). Pada tahap akhir, nilai a0 dari seluruh rentang sudut fase
orbit diekstrapolasi menggunakan metode kuadrat terkecil non-linear berbasis
algoritma Levenberg-Marquardt untuk mendapatkan nilai magnitudo mutlak
dan parameter kemiringan fungsi fase orbit.
Keandalan program komputasi ini divalidasi menggunakan sampel pengamatan
empiris dari lima asteroid yang mewakili berbagai kelas taksonomi. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa implementasi algoritma non-linear berhasil
mencegah distorsi galat dan mengonversi parameter fisis secara rasional. Penggunaan
model tiga parameter terbukti memperhitungkan lonjakan kecerlangan
yang disebabkan oleh efek oposisi di sudut fase kecil. Lebih lanjut, distribusi
nilai parameter kemiringan G1 dan G2 yang dihitung oleh program terbukti
memiliki korelasi fisis terhadap distribusi kelas taksonomi asteroid. Program
komputasi yang dikembangkan terbukti tangguh, akurat, dan fleksibel untuk
memfasilitasi analisis data fotometri asteroid.
Perpustakaan Digital ITB