digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Magnitudo mutlak (H) adalah parameter astronomi fundamental yang merepresentasikan kecerlangan intrinsik suatu benda langit. Untuk asteroid, nilai H menjadi sangat penting karena digunakan untuk menurunkan parameter fisis diameter, yang diperlukan dalam banyak aplikasi praktis seperti distribusi ukuran dan properti fisis populasi asteroid. Estimasi nilai H dari magnitudo tampak memerlukan pendekatan matematis yang kompleks guna mengompensasi fluktuasi akibat jarak geometris dan sudut fase orbit, khususnya akibat lonjakan kecerlangan non-linear dari efek oposisi di daerah sudut fase orbit kecil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan pipeline komputasi numerik berbasis bahasa pemrograman Python untuk mengotomatisasi pemrosesan data fotometri deret waktu serta menghitung parameter kurva fase asteroid menggunakan model fungsi fase tiga parameter (H–G1–G2). Alur pemrosesan data diawali dengan interpolasi data efemeris, yang dilanjutkan dengan pengelompokan data observasi berdasarkan rentang sudut fase orbit menggunakan metode binning seragam dan algoritma Ck-means. Estimasi periode rotasi dilakukan melalui analisis spektral periodogram Lomb- Scargle. Morfologi kurva cahaya dari setiap kelompok sudut fase kemudian dicocokkan menggunakan deret Fourier untuk menghitung nilai magnitudo representatif (a0). Pada tahap akhir, nilai a0 dari seluruh rentang sudut fase orbit diekstrapolasi menggunakan metode kuadrat terkecil non-linear berbasis algoritma Levenberg-Marquardt untuk mendapatkan nilai magnitudo mutlak dan parameter kemiringan fungsi fase orbit. Keandalan program komputasi ini divalidasi menggunakan sampel pengamatan empiris dari lima asteroid yang mewakili berbagai kelas taksonomi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi algoritma non-linear berhasil mencegah distorsi galat dan mengonversi parameter fisis secara rasional. Penggunaan model tiga parameter terbukti memperhitungkan lonjakan kecerlangan yang disebabkan oleh efek oposisi di sudut fase kecil. Lebih lanjut, distribusi nilai parameter kemiringan G1 dan G2 yang dihitung oleh program terbukti memiliki korelasi fisis terhadap distribusi kelas taksonomi asteroid. Program komputasi yang dikembangkan terbukti tangguh, akurat, dan fleksibel untuk memfasilitasi analisis data fotometri asteroid.