Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengembangkan Jabar Electronic Information Assistance (JELITA) sebagai portal layanan perizinan terintegrasi. Awalnya JELITA dibangun secara monolitik sehingga sulit dikembangkan, terbatas dalam hal skalabilitas, dan belum sepenuhnya mendukung interoperabilitas antar layanan maupun integrasi dengan ekosistem SPBE dan OSS RBA. Penelitian ini berfokus pada pengembangan ulang JELITA dengan pendekatan arsitektur microservices menggunakan metodologi Services Computing Systems Engineering (SCSE) dari fase service requirement, modelling, hingga development. Tahapan tersebut mencakup pemetaan kebutuhan bisnis perizinan, dekomposisi proses menjadi kapabilitas dan layanan bisnis, pemodelan service interface dengan SoaML, sampai implementasi prototipe beberapa layanan inti (manajemen pengguna, pendaftaran, alur kerja, survei, dan arsip) dalam lingkungan Docker.
Kualitas rancangan arsitektur dievaluasi menggunakan empat metrik layanan: coupling factor (CopF), cohesion factor (CohF), complexity factor (ComF), dan reusability factor (ResF). Hasil perhitungan menunjukkan CopF=0,00172; CohF=0,8460; ComF=0,00203; dan ResF=3,67. Nilai CopF yang mendekati 0 menunjukkan ketergantungan antarlayanan yang rendah (loose coupling), nilai ComF yang rendah mengindikasikan kompleksitas interaksi yang rendah, sedangkan ResF ? 1 menunjukkan potensi penggunaan ulang layanan yang tinggi.
Untuk memasukkan bukti kuantitatif migrasi dari monolith ke microservices, dilakukan uji skalabilitas pada dua environment: (1) single-host untuk perbandingan langsung monolith vs microservices, dan (2) lingkungan terdistribusi dua VM menggunakan Lightweight Kubernetes (K3s) untuk memvalidasi perilaku sistem pada orkestrasi multi-node. Pada pengujian single-host digunakan tiga konfigurasi: monolith, microservices single-host, dan microservices scale-out (replikasi layanan + load balancing) dengan skenario baseline 35 VU dan stress 75 VU. Pada baseline (35 VU), microservices single-host meningkatkan throughput dari 20,03 ± 0,60 req/s (monolith) menjadi 27,58 ± 0,78 req/s, sekaligus menurunkan tail latency dari p95 1026,51 ± 116,05 ms menjadi 610,89 ± 92,30 ms (p99 dari 1258,88 ± 130,50 ms menjadi 837,55 ± 130,73 ms). Pada stress (75 VU), konfigurasi microservices scale-out menjadi yang paling stabil dengan throughput 52,60 ± 1,06 req/s dan p95 839,94 ± 70,76 ms (p99 1268,38 ± 167,55 ms),
dibanding monolith throughput 36,08 ± 0,36 req/s dengan p95 1683,78 ± 63,35 ms (p99 2098,29 ± 76,59 ms); seluruh konfigurasi pada tabel komparasi ini menunjukkan error rate 0%. Pada validasi terdistribusi menggunakan K3s dua node (dua VM), pengujian baseline dan stress menunjukkan success rate masing-masing 99,49% dan 99,79% serta p95 waktu respons berada pada kisaran 98,12–99,93 ms.
Selanjutnya, evaluasi interoperabilitas dilakukan melalui pengujian prototipe fungsional end-to-end. Seluruh alur utama diuji mulai dari proses masuk pengguna, pengajuan permohonan, pengisian Survei Kepuasan Masyarakat, hingga pengarsipan dengan konsistensi referensi data permohonan di seluruh basis data layanan. Hasil pengujian interoperabilitas menunjukkan contract/conformance 100% dan data exchange 98–100%, sementara verifikasi kesiapan SPBE menghasilkan skor 75,85% (44/58).
Perpustakaan Digital ITB