digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur penting yang mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi. Pengelolaannya menuntut adanya mekanisme pemantauan dan penanganan yang lebih cepat, tepat, dan terintegrasi melalui transformasi digital. Sebagai implementasi di tingkat daerah, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat mengembangkan platform digital Teman Jabar (Sistem Monitoring Jalan dan Jembatan Jawa Barat) untuk meningkatkan keterlibatan publik dan mengelola data infrastruktur. Pada awal pembangunannya, platform Teman Jabar beserta aplikasi pendukungnya seperti Sipelajar, Talikuat, Sapu Lobang, dan Systarumija menggunakan pendekatan arsitektur monolitik. Seiring meningkatnya jumlah pengguna dan kebutuhan integrasi, arsitektur monolitik menunjukkan keterbatasan. Keseluruhan modul yang tergabung dalam satu aplikasi menciptakan tingkat ketergantungan antar komponen yang tinggi (tight coupling). Hal ini berdampak pada keterbatasan skalabilitas, kesulitan pemeliharaan, serta tingginya risiko kegagalan sistem secara menyeluruh (cascading failure) dan downtime yang dapat mengganggu layanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang arsitektur platform Teman Jabar berbasis microservices menggunakan metodologi Service Computing System Engineering (SCSE) guna mengatasi permasalahan pada arsitektur monolitik tersebut. Pengembangan difokuskan pada tahap Objective and Requirements, Modeling, dan Development untuk menghasilkan prototipe arsitektur yang modular dan terdistribusi. Prinsip pengembangan yang diterapkan berfokus pada dekomposisi layanan menggunakan Domain-Driven Design (DDD) untuk mencapai loose coupling dan high cohesion. Berdasarkan hasil analisis domain, platform Teman Jabar diklasifikasikan menjadi beberapa batas layanan (bounded context), yang kemudian menghasilkan enam inovasi layanan inti, yaitu Layanan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Layanan Pengelolaan User, Layanan Pengaduan Masyarakat, Layanan Monitoring Paket Pekerjaan, Layanan Pengelolaan Aset dan Perizinan, serta Layanan Informasi dan Dashboard. Setiap layanan ini diimplementasikan secara independen menggunakan teknologi containerization Docker dengan antarmuka berbasis Application Programming Interface (API). Evaluasi rancangan arsitektur dilakukan terhadap dua aspek utama, yaitu kualitas desain layanan secara struktural dan atribut kualitas sistem pada tingkat prototipe. Pengukuran metrik desain layanan dilakukan menggunakan empat parameter kuantitatif. Hasil pengukuran menunjukkan nilai Coupling Factor (CopF) sebesar 0,001832, Cohesion Factor (CohF) sebesar 0,9118, Complexity Factor (ComF) sebesar 0,002009, dan Reusability Factor (ResF) sebesar 3,18. Nilai evaluasi tersebut mengonfirmasi bahwa rancangan arsitektur microservices yang diusulkan telah terhindar dari kerumitan desain dan berhasil mencapai karakteristik fundamental microservices, yaitu tingkat loose coupling yang tinggi, high cohesion, low complexity, serta memiliki potensi guna ulang (reusability) yang baik untuk mendukung integrasi dengan sistem pemerintah daerah lainnya. Selain evaluasi desain, pengujian juga dilakukan untuk memvalidasi atribut kualitas sistem, khususnya terkait interoperabilitas, stabilitas, dan ketahanan sistem (resilience). Pengujian interoperabilitas internal berbasis API menunjukkan keberhasilan komunikasi dan konsistensi pertukaran data secara sinergis antar layanan. Pada pengujian stabilitas dengan skenario hantaman beban ekstrem secara serentak mencapai total 95.920 permintaan (requests), sistem mampu memproses dengan tingkat keberhasilan (success rate) otentikasi mencapai 100% dan tingkat kesalahan (error rate) sebesar 0,0%. Lebih lanjut, pengujian ketahanan (resilience testing) dilakukan menggunakan pendekatan Chaos Engineering melalui skenario isolasi kegagalan (fault injection). Hasilnya membuktikan bahwa gangguan atau penghentian paksa pada satu layanan tidak menyebabkan propagasi kegagalan ke layanan lain, sehingga sistem terhindar dari cascading failure. Waktu rata-rata pemulihan sistem (Mean Time To Recovery atau MTTR) juga tercatat sangat cepat, yaitu pada rentang 800 hingga 1.200 milidetik. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan arsitektur microservices menggunakan kerangka kerja SCSE memberikan landasan teknologi yang modular, adaptif, dan tangguh untuk pengembangan platform sistem monitoring infrastruktur di masa mendatang.