Kebutuhan pembangunan rumah susun di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan urbanisasi dan target penyediaan perumahan nasional. Di sisi lain, sektor konstruksi dituntut untuk mengurangi emisi karbon melalui penerapan material dan sistem konstruksi yang lebih berkelanjutan. Indonesia memiliki potensi sumber daya kayu yang besar serta peluang penerapan sistem modular prafabrikasi untuk mendukung pembangunan rumah susun yang lebih cepat, efisien, dan rendah karbon. Namun, pemanfaatan kedua potensi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan karena keputusan desain melibatkan keterkaitan antara parameter material, sistem modular, konfigurasi spasial, kapasitas industri, karakteristik regional, dan performa karbon. Berbagai informasi tersebut umumnya digunakan secara terpisah sehingga belum tersedia suatu mekanisme yang mampu mengintegrasikan seluruh parameter ke dalam proses pengambilan keputusan desain secara sistematis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model desain rumah susun modular prafabrikasi berbasis kayu rekayasa melalui pendekatan komputasional untuk mendukung pengembangan hunian rendah karbon di Indonesia. Penelitian menggunakan paradigma Design and Development Research (DDR) dengan pendekatan komputasional serta menerapkan prinsip design hierarchy, dimana keputusan desain dikembangkan secara bertahap dari tingkat sistem menuju tingkat yang lebih rinci. Penelitian dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu penyusunan framework parameter, pengembangan model evaluasi sistem dimensi modular, pengembangan model generatif konfigurasi layout, dan pengembangan model evaluasi pemanfaatan material. Tahap pertama menghasilkan kerangka parameter yang mengintegrasikan aspek desain rumah susun, sistem modular prafabrikasi, dan material kayu rekayasa. Tahap kedua mengevaluasi alternatif sistem dimensi modular menggunakan indikator Modular Complexity (MC), Modular Excess (ME), Modular Deficit (MD), Modular Excess Area (MEA), dan Modular Deficit Area (MDA). Tahap ketiga mengembangkan model generatif untuk menghasilkan alternatif konfigurasi layout yang dievaluasi menggunakan Adjacency Deviation Index (ADI), Spatial Occupancy Efficiency (SOE), dan Envelope Panel Count (EPC). Tahap keempat mengevaluasi alternatif pemanfaatan material berdasarkan indikator Embodied Carbon (EC), Industry Reliability Index (IRI), Regional Material Composition Deviation (RMCD), Housing Fulfillment Disparity (HFD), dan Unused Material Ratio (UMR). Pada setiap tahapan, proses pengambilan keputusan diintegrasikan dengan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) serta diverifikasi menggunakan Sensitivity Analysis dan Robustness Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan rumah susun modular rendah karbon dipengaruhi oleh interaksi antara parameter material, spasial, modular, regional, dan performa karbon yang saling berkaitan. Pada tingkat material, strategi dekarbonisasi terutama dicapai melalui substitusi material berintensitas karbon tinggi dengan sistem prafabrikasi berbasis kayu rekayasa, dimana komponen dinding dan lantai menjadi prioritas utama karena memberikan kontribusi embodied carbon terbesar. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dimensi modular optimum ditentukan oleh keseimbangan berbagai indikator kinerja, bukan oleh ukuran modul tertentu, sedangkan kualitas model generatif lebih dipengaruhi oleh heterogenitas karakter spasial dibandingkan jumlah alternatif yang dihasilkan. Verifikasi model menunjukkan tingkat sensitivitas dan robustness yang baik terhadap perubahan parameter evaluasi. Selain itu, karakteristik regional, meliputi kondisi supply-demand, kapasitas industri, dan ketersediaan material, memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan variasi tipologi hunian dalam menentukan alternatif sistem prafabrikasi yang optimal. Berdasarkan sintesis seluruh temuan, penelitian ini merumuskan Integrated Decarbonization Pathway yang terdiri atas resource transition, production transition, dan system transition sebagai kerangka konseptual menuju pengembangan rumah susun rendah karbon di Indonesia. Penelitian ini menghasilkan model desain rumah susun modular berbasis kayu rekayasa yang mengintegrasikan optimasi dimensi modular, generasi konfigurasi ruang, optimasi material regional, evaluasi multikriteria, analisis sensitivitas, dan penilaian robustness dalam satu kerangka pendukung pengambilan keputusan. Model yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung perancang, industri, dan pemerintah dalam mengembangkan rumah susun modular berbasis kayu rekayasa yang adaptif terhadap karakteristik regional Indonesia serta berkontribusi pada percepatan transisi menuju sektor perumahan rendah karbon.
Perpustakaan Digital ITB