digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Sandy Prasetia
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Urban Heat Island atau Pulau Panas Perkotaan (PPP) adalah Fenomena iklim mikro perkotaan yang dicirikan dengan besarnya perbedaan temperatur antara area urban/semi-urban dan rural sebesar 5-10 derajat. Beberapa efek negatif yang terjadi akibat tingginya intensitas Pulau Panas Perkotaan (PPP) adalah naiknya konsumsi energi untuk pengkondisian udara, terjadinya cuaca ekstrim seperti angin ribut, hujan es, dan banjir sesaat yang merusak. Emisi kalor dari Bangunan khususnya dari atap gedung di mana di daerah katulistiwa komponen atap tersebut menerima radiasi matahari yang dominan. Penelitian ini membahas penerapan konsep ‘atap dingin’ yaitu permukaan atap yang bernilai reflektansi tinggi dan emisivitas yang tinggi daya pancar termal yang juga tinggi sehingga mampu memitigasi fenomena PPP. Penelitian berfokus pada tiga jenis intervensi atap dingin yaitu pemberian lapisan 1) Gelembung Foil (FB), 2) Cat Reflektif (RC) dan 3) lapisan kombinasi (FB+RC). Secara keseluruhan penelitian terbagi menjadi dua tahap yaitu penelitian lapangan dengan pengukuran pada bangunan nyata dan simulasi lingkungan dengan menggunakan aplikasi Envi-Met. Tahap penelitian lapangan memiliki tiga variabel terikat yaitu Temperatur Permukaan (Tp), Temperatur Radiasi (Tr), dan Temperatur Udara (Tu). Sementara tahap penelitian simulasi Envi-Met sudah terfokus pada Temperatur udara (Tu) sebagai indikator utama PPP. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa lapisan Gelembung Foil (FB) sangat efektif dalam menurunkan temperatur udara (Tu) kawasan dengan penurunan sebesar 0.80 °C selain itu dapat menurunkan temperatur permukaan 3 hingga 15 °C dari atap Referensi (Ref). Berbeda dengan Gelembung Foil (FB), atap Cat Reflektif (RC) memperlihatkan efisiensinya dengan mampu menurunkan Temperatur udara (Tu) kawasan sebesar 0.72 °C dengan penurunan durasi temperatur kategori tinggi (40-50 °C) selama 2 jam dari 4.25 jam atap Referensi (Ref) kategori temperatur tinggi , begitupun penurunan luasan temperatur kategori tinggi seluas 11.945 sel dari total luas 18.581 sel (satu sel setara dengan 1 m2) temperatur kategori tinggi (40-50 °C) pada atap Referensi (Ref), ditambah dengan kemampuan waktu tunda pada pengukuran lapangan yang mencapai 185 menit di periode temperatur puncak (P2 08.00-16.00 WIB). Terakhir, atap Kombinasi (FB+RC) secara efektif dan efisien mampu menurunkan Temperatur udara (Tu) kawasan sebesar 1.28 °C dengan penurunan luasan temperatur kategori tinggi (40-50 °C) sebesar 62.74% dan penambahan luasan temperatur kategori rendah (20-30 °C) sebanyak 6.70% ketika dibandingkan dengan atap Referensi (Ref). Selain itu, atap Kombinasi (FB+RC) juga dapat menurunkan Temperatur radiasi (Tr) hingga 4.9 °C dan Temperatur udara (Tu) hingga 6.8 °C pada pengukuran lapangan. Meski demikian, atap Kombinasi (FB+RC) tidak cukup baik dalam menunda panas pada periode panas puncak atau siang hari, dibanding dua atap tersebut di atas. Hasil penelitian ini memberikan arah bagi perkembangan teknologi penutup atap yang mengintegrasikan sifat permukaan yang memantulkan dan insulator termal.