digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Yudith Arunika Cempaka Wella
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Peningkatan kebutuhan material bangunan yang ramah lingkungan mendorong pengembangan material konstruksi berbasis biomassa lokal sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Kota Kupang memiliki potensi tanah kapuran (calcareous soil) dan limbah serat buah lontar yang melimpah, namun pemanfaatannya sebagai material bangunan masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi parsial serat buah lontar terhadap karakteristik material, sifat fisik, mekanik, ketahanan api, performa termal, dampak lingkungan, serta potensi implementasinya sebagai material dinding rumah sederhana. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan variasi kadar serat sebesar 0%, 2,5%, 5%, dan 7,5% terhadap berat tanah kapuran. Pengujian meliputi karakterisasi material penyusun, densitas, penyerapan air, susut pengeringan, kuat tekan, reaksi terhadap api, konduktivitas termal, tahanan termal (R-value), transmitansi termal (U-value), analisis mikrostruktur menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), analisis korelasi Pearson, Life Cycle Assessment (LCA) berbasis cradle-to-gate (A1–A3), analisis keseimbangan pasokan–kebutuhan biomassa, serta robustness assessment berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar serat menyebabkan penurunan kuat tekan dari 9,1 MPa pada BSL-0 menjadi 7,2 MPa, 6,3 MPa, dan 4,1 MPa pada BSL-2,5, BSL-5, dan BSL-7,5, namun seluruh variasi masih memenuhi persyaratan SNI 03-0349-1989 untuk batako non-struktural. Penambahan serat juga meningkatkan performa ketahanan api, sementara variasi BSL-2,5 menghasilkan konduktivitas termal terendah sehingga memberikan kemampuan isolasi termal terbaik. Analisis SEM menunjukkan bahwa penurunan kuat tekan dipengaruhi oleh terbentuknya interfacial transition zone, peningkatan porositas, dan penggumpalan serat pada kadar tinggi. Analisis LCA menunjukkan bahwa batako berbasis tanah kapuran berserat lontar memiliki embodied carbon yang lebih rendah dibandingkan material dinding konvensional, sedangkan analisis pasokan–kebutuhan membuktikan bahwa ketersediaan limbah serat buah lontar di Kota Kupang mampu mendukung produksi batako untuk pembangunan rumah sederhana secara berkelanjutan. Sintesis seluruh parameter melalui robustness assessment menetapkan variasi BSL-2,5 sebagai komposisi optimum karena memberikan keseimbangan terbaik antara performa mekanik, karakteristik fisik, performa termal, ketahanan api, dampak lingkungan, dan potensi implementasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah serat buah lontar berpotensi menjadi biomassa lokal yang layak dikembangkan sebagai material dinding rendah karbon untuk mendukung pembangunan perumahan berkelanjutan di daerah tropis kering.