Sektor konstruksi global menyumbang sekitar 37% dari total emisi karbon dunia, sementara ketersediaan limbah biomassa serat kelapa di Indonesia sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal sehingga hal tersebut merupakan permasalahan yang cukup krusial dan perlu adanya penanggulangan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan terkait limbah konstruksi dan limbah biomassa, yaitu dengan pembuatan material yang ramah lingkungan dan mengurangi limbah. Maka tahapan awalnya yaitu dengan menentukan formulasi dan proporsi campuran optimal seperti rasio serat kelapa, agregat, dan matriks pengikat yang menghasilkan bata ringan Cellular Lightweight Concrete (CLC) dengan performa fisik dan mekanik terbaik sesuai standar, menganalisis pola hubungan, kelayakan teknis, dan tingkat pengaruh variasi substitusi serat kelapa dengan perlakuan NaOH terhadap karakteristik fisik (densitas, absorpsi air) dan mekanik (kuat tekan, kuat lentur, kuat tarik belah), serta mengevaluasi dampak lingkungan bata ringan tersebut, khususnya nilai jejak karbon (embodied carbon), menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA).
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-method) yang mengintegrasikan eksperimen laboratorium, analisis statistik (uji Two-Way ANOVA, korelasi Pearson, dan Tukey HSD), metode TOPSIS untuk pembuktian formulasi yang optimal, serta perhitungan LCA/LCIA untuk kuantifikasi jejak karbon. Serat kelapa diberi pra-perlakuan alkalisasi NaOH sebelum dicampurkan, dengan variasi ukuran serat dan substitusi volume sebesar 10%–60% terhadap agregat pasir, kemudian diuji fisik dan mekanik mengacu pada SNI dan ASTM.
Hasil penelitian menunjukkan formulasi yang optimal dapat tercapai pada substitusi serat 30% dengan panjang 50 mm setelah diberi perlakuan alkalisasi NaOH sebesar 6% dan selama 24 jam, dengan rata-rata (86%) hasil pengujian fisik, mekanik, dan perhitungan LCA masuk kedalam standar, terdapat 71,4% yang tertinggi, terdapat 14,2% nilai tertinggi tetapi tidak masuk kedalam standar, dan hal tersebut dibuktikan melalui perhitungan TOPSIS dengan nilai tertinggi yaitu 0,763. Lalu, ditemukan adanya pola trade-off antara penurunan densitas dan penurunan kinerja mekanik pada substitusi yang persentase nya lebih tinggi. Kemudian, semua evaluasi perhitungan LCA pada Bata Ringan CLC dengan serat kelapa menunjukkan dapat menekan jejak karbon (embodied carbon) hingga titik minimal 471,70 kg CO?e/m³, dan membuktikan potensinya sebagai material dinding rendah karbon (low embodied carbon) yang layak diterapkan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB