Sektor bangunan dan konstruksi merupakan salah satu kontributor utama emisi karbon global, dengan kontribusi sekitar 37% terhadap emisi karbon dioksida dunia pada tahun 2022. Di Indonesia, kegiatan manufaktur dan konstruksi berkontribusi sekitar 21,46% terhadap emisi sektor energi nasional, antara lain akibat tingginya penggunaan material konstruksi konvensional beremisi karbon tinggi seperti beton dan baja. Pada saat yang sama, Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% melalui upaya mandiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030 dalam kerangka Nationally Determined Contribution. Pencapaian target tersebut memerlukan transisi menuju material konstruksi rendah karbon, termasuk pemanfaatan kayu rekayasa yang berasal dari sumber daya terbarukan, memiliki efisiensi bahan baku lebih tinggi, dan mampu menyimpan karbon biogenik selama masa penggunaan bangunan.
Meskipun penggunaan produk kayu rekayasa mulai berkembang di Indonesia, data emisi karbon dari produk industri lokal masih terbatas dan belum terdokumentasi secara sistematis. Produsen dalam negeri juga belum banyak memiliki Environmental Product Declaration terverifikasi, sehingga nilai emisi yang digunakan dalam penilaian bangunan sebagian besar masih mengacu pada basis data dan produk luar negeri yang belum tentu merepresentasikan kondisi sumber bahan baku, bauran energi, teknologi produksi, transportasi, dan praktik konstruksi di Indonesia. Penelitian terdahulu juga lebih banyak membahas potensi struktural atau lingkungan kayu secara umum, sementara kajian empiris yang mengintegrasikan emisi karbon fosil dan penyimpanan karbon biogenik pada tahap A1-A5 untuk beberapa jenis produk kayu rekayasa lokal masih terbatas. Kesenjangan data ini menyulitkan perencana, produsen, dan pembuat kebijakan dalam mengevaluasi kontribusi kayu rekayasa terhadap dekarbonisasi sektor bangunan secara objektif.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghitung emisi karbon pra-penggunaan produk kayu rekayasa industri Indonesia pada modul A1-A5; (2) mengidentifikasi tahapan dan sumber dominan penyumbang emisi; (3) menghitung penyimpanan karbon biogenik dan keseimbangan karbon indikatif setiap produk; serta (4) menyusun nilai acuan awal bagi pengembangan basis data emisi material bangunan dan informasi lingkungan produk kayu rekayasa di Indonesia. Tiga produk
dianalisis melalui studi kasus bangunan, yaitu glued laminated timber (glulam) pada Rumah Pluit Samudra di Jakarta, cross-laminated timber (CLT) pada Show Unit Modular di Pejaten, serta blockwood pada Rumah Pascabencana Gasol di Cianjur.
Penelitian menggunakan metode Life Cycle Assessment mengacu pada ISO 14040 dan ISO 14044 serta kerangka penilaian bangunan EN 15978:2011. Batas sistem meliputi pasokan bahan baku (A1), transportasi bahan baku ke fasilitas produksi (A2), proses manufaktur (A3), transportasi produk ke lokasi proyek (A4), dan proses konstruksi (A5). Karbon biogenik dihitung mengacu pada EN 16449:2014. Unit fungsional ditetapkan sebesar 1 m³ produk kayu rekayasa terpasang. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, wawancara produsen, dokumentasi proses produksi, data konsumsi energi, penggunaan perekat, transportasi, dan kegiatan konstruksi. Data yang tidak tersedia dilengkapi menggunakan basis data emisi internasional, literatur, dan EPD terverifikasi. Perhitungan dilakukan secara manual menggunakan Microsoft Excel untuk menjaga transparansi dan keterlacakan data.
Hasil penelitian menunjukkan total Global Warming Potential–fossil pada modul A1-A5 mencapai 987,26 kg CO?e/m³ untuk glulam, 904,29 kg CO?e/m³ untuk CLT, dan 840,55 kg CO?e/m³ untuk blockwood. Modul A3 menjadi penyumbang emisi terbesar pada ketiga studi kasus, terutama akibat konsumsi listrik manufaktur dan penggunaan perekat, sementara A1 menjadi kontributor terbesar kedua meski masih dipengaruhi data sekunder dan asumsi literatur. Efisiensi energi produksi, pemilihan sumber energi rendah karbon, dan pemilihan perekat menjadi aspek penting dalam menurunkan emisi kayu rekayasa lokal.
CLT memiliki penyimpanan karbon biogenik tertinggi, yaitu 1.047,60 kg CO?e/m³, sehingga menghasilkan keseimbangan karbon sebesar -143,33 kg CO?e/m³ dan berpotensi berfungsi sebagai penyimpan karbon selama karbon tersebut belum dilepaskan pada akhir siklus hidup. Glulam dan blockwood masih menghasilkan keseimbangan karbon positif, namun tetap memiliki potensi emisi lebih rendah dibandingkan material struktural konvensional tertentu. Perbedaan hasil antar produk dipengaruhi oleh massa kayu per unit volume, jenis dan jumlah perekat, konsumsi energi manufaktur, efisiensi produksi, jarak transportasi, dan karakteristik proses konstruksi.
Penelitian ini memberikan nilai acuan awal emisi karbon pra-penggunaan dan penyimpanan karbon biogenik bagi tiga produk kayu rekayasa di Indonesia, memperluas kajian embodied carbon material berbasis biomassa, serta mendukung pengembangan basis data emisi nasional, penyusunan EPD lokal, evaluasi material pada tahap perancangan, dan kebijakan bangunan rendah karbon. Pengembangan EPD terverifikasi dan data primer yang lebih konsisten diperlukan untuk memperkuat peran kayu rekayasa dalam dekarbonisasi sektor bangunan Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB