digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menempatkan restorasi ekologi sebagai salah satu strategi penting dalam pemulihan bentang alam pada ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Kalimantan Timur. Perencanaan restorasi di IKN menghadapi tantangan dalam menentukan spesies yang mampu beradaptasi dan membentuk populasi pada kondisi lingkungan yang kontras akibat lanskap bekas hutan tanaman Eucalyptus pellita, khususnya antara area restorasi lahan terbuka dan kondisi bawah tajuk yang teduh di bawah tegakan eksisting. Kedua kondisi lingkungan tersebut diduga menerapkan environmental filtering yang berbeda dan memerlukan functional strategy tanaman yang berbeda pula untuk mendukung keberhasilan establishment spesies. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan kerangka pemilihan spesies berbasis functional traits; (2) mengevaluasi pengaruh perbedaan kondisi lingkungan terhadap komposisi functional traits pada komunitas referensi sebagai target ekologis, dan; (3) mengidentifikasi spesies pohon lokal dengan kesesuaian fungsional tertinggi pada konteks restorasi open-land restoration dan under-canopy enrichment planting, menggunakan pendekatan Community Assembly by Trait Selection (CATS). Sebanyak 73 spesies pohon kandidat dievaluasi menggunakan model CATS untuk mengestimasi predicted relative abundance berdasarkan trait constraints yang diturunkan dari dua komunitas referensi. Spesies kandidat merupakan spesies lokal yang telah melalui seleksi awal berdasarkan relevansi ekologis dan aplikasinya dalam restorasi, termasuk status sebagai spesies asli (native/local species), potensi penggunaan dalam program restorasi, kelimpahan pada hutan hujan dataran rendah sekitar lokasi penelitian, serta pertimbangan ekologi lokal. Analisis dilakukan menggunakan tujuh functional traits daun, yaitu luas daun (leaf area; LA), luas daun spesifik (specific leaf area; SLA), kandungan bahan kering daun (leaf dry matter content; LDMC), kerapatan stomata (stomatal density), kapasitas antioksidan, konsentrasi prolin, dan kandungan klorofil total. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan trait syndrome dan pola environmental filtering antara kedua konteks restorasi. Lingkungan bertajuk terbuka lebih berkaitan dengan karakteristik toleransi terhadap stres fisiologis, sedangkan lingkungan bertajuk tertutup menunjukkan karakteristik yang mendukung akuisisi cahaya dan karbon. Spesies dengan peringkat tertinggi pada kondisi terbuka meliputi Diospyros confertiflora, Baccaurea parviflora, dan Xanthophyllum stipitatum, sedangkan pada kondisi tertutup meliputi Heritiera elata, Bouea oppositifolia, dan Shorea laevis. Selain itu, Maasia glauca dan Drypetes kikir menunjukkan kesesuaian fungsional yang relatif luas karena secara konsisten memiliki peringkat tinggi pada kedua kondisi lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis functional traits memiliki potensi untuk mendukung proses pemilihan spesies yang lebih terarah dan berbasis mekanisme ekologis dalam restorasi hutan tropis yang heterogen, seperti pada lanskap IKN di Kalimantan Timur.