digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program strategis nasional untuk menurunkan angka stunting dan memperbaiki status gizi anak Indonesia. Implementasi program ini menghadapi tantangan serius berupa insiden keracunan pangan yang menghambat tujuan tersebut. Permasalahan utama teridentifikasi pada kegagalan pengendalian suhu dan risiko kontaminasi silang selama distribusi tahap akhir (last-mile), yaitu rentang waktu kritis antara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga titik konsumsi di sekolah penerima manfaat. Penelitian ini bertujuan memetakan alur distribusi pangan MBG, mengidentifikasi Titik Kendali Kritis (Critical Control Points/CCPs) penyebab kerusakan pangan, serta merancang solusi desain wadah distribusi untuk memitigasi risiko tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam pada SPPG di Provinsi Jawa Barat. Hasil observasi menemukan kesenjangan desain pada armada distribusi tanpa insulasi termal, menyebabkan suhu makanan naik 13,8°C dalam waktu singkat dan memasuki zona bahaya pertumbuhan bakteri (5–60°C), serta risiko kontaminasi silang akibat sistem penyimpanan dalam kendaraan yang tidak memadai. Penelitian menghasilkan rancangan wadah distribusi berbasis Phase Changing Material (PCM) dengan konfigurasi chamber ganda, dilengkapi swing handle, foldable wheels untuk portabilitas, serta dent-and-footing yang mendukung penataan bertingkat. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi sistem termoregulasi pasif berbasis PCM dengan pendekatan desain ergonomis yang disesuaikan terhadap konteks operasional SPPG dan antropometri pengguna lokal Indonesia. Kontribusi penelitian diharapkan menjadi acuan pengembangan sarana distribusi pangan yang meningkatkan stabilitas suhu, keamanan pangan, dan keberlanjutan operasional program MBG.