Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program strategis nasional untuk
menurunkan angka stunting dan memperbaiki status gizi anak Indonesia.
Implementasi program ini menghadapi tantangan serius berupa insiden keracunan
pangan yang menghambat tujuan tersebut. Permasalahan utama teridentifikasi pada
kegagalan pengendalian suhu dan risiko kontaminasi silang selama distribusi tahap
akhir (last-mile), yaitu rentang waktu kritis antara dapur Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga titik konsumsi di sekolah penerima manfaat.
Penelitian ini bertujuan memetakan alur distribusi pangan MBG, mengidentifikasi
Titik Kendali Kritis (Critical Control Points/CCPs) penyebab kerusakan pangan,
serta merancang solusi desain wadah distribusi untuk memitigasi risiko tersebut.
Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi
melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam pada SPPG di Provinsi
Jawa Barat. Hasil observasi menemukan kesenjangan desain pada armada distribusi
tanpa insulasi termal, menyebabkan suhu makanan naik 13,8°C dalam waktu
singkat dan memasuki zona bahaya pertumbuhan bakteri (5–60°C), serta risiko
kontaminasi silang akibat sistem penyimpanan dalam kendaraan yang tidak
memadai. Penelitian menghasilkan rancangan wadah distribusi berbasis Phase
Changing Material (PCM) dengan konfigurasi chamber ganda, dilengkapi swing
handle, foldable wheels untuk portabilitas, serta dent-and-footing yang mendukung
penataan bertingkat. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi sistem
termoregulasi pasif berbasis PCM dengan pendekatan desain ergonomis yang
disesuaikan terhadap konteks operasional SPPG dan antropometri pengguna lokal
Indonesia. Kontribusi penelitian diharapkan menjadi acuan pengembangan sarana
distribusi pangan yang meningkatkan stabilitas suhu, keamanan pangan, dan
keberlanjutan operasional program MBG.
Perpustakaan Digital ITB