digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Karya Tugas Akhir ini berangkat dari pengalaman hidup di Kota Bandung dan kesadaran terhadap adanya jarak antara kota yang hadir melalui berbagai gambaran dengan kota yang dijalani dalam pengalaman sehari-hari. Jarak tersebut menjadi dasar untuk mempertanyakan bagaimana citra turut membentuk cara suatu kota dilihat dan dibayangkan. “Fiksi di Atas Kota” menggunakan praktik seni video dengan menghadirkan greenscreen sebagai perangkat visual sekaligus material artistik untuk melakukan intervensi dalam ruang kota. Proses penciptaan menggunakan pendekatan autoetnografi dalam penelitian artistik, dengan pengalaman, perjumpaan, dan hubungan saya dengan Kota Bandung sebagai titik berangkat dalam menentukan serta membaca lokasi penciptaan. Lima lokasi yang digunakan, yaitu Dago Elos, Teras Cihampelas, Kampung Braga, Pasar Cicadas, dan Gang Sekepondok, berkembang dari hubungan tersebut dan tidak diposisikan sebagai sampel yang mewakili keseluruhan Kota Bandung. Tahapan penciptaan meliputi pengamatan dan pendekatan terhadap lokasi, pengukuran dan penentuan titik pembentangan, pembentangan greenscreen, perekaman visual, serta pengolahan citra pada tahap penyuntingan. Kain greenscreen berukuran 25 x 26 meter dibentangkan mengikuti kondisi masing-masing ruang, kemudian direkam dari sudut pandang tinggi sehingga keberadaan bidang hijau tetap terbaca bersama lingkungan di sekitarnya. Hasil rekaman selanjutnya mengalami proses chroma key dan substitusi citra menggunakan footage stok digital yang dipilih berdasarkan hubungan visual dengan bentuk greenscreen pada setiap lokasi. Karya disusun dalam bentuk seni video nonlinier dan looping melalui pola kemunculan citra, penghilangan citra, tersingkapnya greenscreen, dan kemunculan citra berikutnya. Melalui proses tersebut, greenscreen bekerja dalam dua keadaan sebagai material fisik yang sementara mengubah susunan visual ruang dan sebagai bidang yang memungkinkan citra terus dihadirkan, dihilangkan, dan digantikan. “Fiksi di Atas Kota” berupaya membuka kemungkinan untuk melihat bahwa gambaran mengenai kota dapat terus disusun dan dibayangkan kembali tanpa menetapkan satu citra sebagai bentuk akhirnya.