Kondisi perkerasan jalan di berbagai daerah di Indonesia masih menghadapi
tantangan serius. Lapisan perkerasan lentur, khususnya lapisan aus, menghadapi
tantangan terberat karena bertugas menerima beban langsung dari lalu lintas
kendaraan sekaligus terpapar langsung terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem,
termasuk di antaranya curah hujan, fluktuasi suhu, dan paparan langsung sinar
matahari. Salah satu jenis campuran beraspal yang umum digunakan sebagai
lapisan aus adalah Hot Rolled Sheet-Wearing Course (HRS-WC), yang diproduksi
dengan pemanasan agregat dan aspal pada suhu yang sangat tinggi, yang dikenal
dengan teknologi Hot Mix Asphalt (HMA). Meskipun efektif, produksi HMA
membawa beberapa dampak negatif, di antaranya adalah menghasilkan emisi gas
yang signifikan, risiko keselamatan pekerja, dan mempercepat proses penuaan
(aging) aspal karena dipanaskan pada suhu yang tinggi.
Campuran beraspal hangat atau Warm Mix Asphalt (WMA) berkembang sebagai
alternatif yang lebih ramah lingkungan, karena diproduksi dan dipadatkan pada
suhu yang lebih rendah dibandingkan HMA. Salah satu teknologi WMA yang
umum digunakan adalah teknologi berbasis busa (foaming-based), yang mencakup
penggunaan zeolit sebagai agen penghasil busa alami di dalam campuran.
Karakteristik unik zeolit yang relevan dalam konteks WMA adalah kemampuannya
menyimpan air di dalam struktur kristal dan melepaskannya secara bertahap ketika
dipanaskan tanpa merusak struktur kristalnya. Zeolit yang digunakan dapat berupa
zeolit sintetis maupun zeolit alam. Salah satu deposit zeolit alam dengan cadangan
cukup besar adalah zeolit Gunungkidul, Jawa Tengah. Meskipun zeolit alam telah
terbukti efektif sebagai aditif WMA pada ukuran mikron, sejumlah keterbatasan
teknis masih ditemukan. Salah satunya adalah kecenderungan terbentuknya
aglomerasi (penggumpalan) di dalam aspal yang menyebabkan distribusi partikel
menjadi tidak merata dan efisiensi foaming yang tidak optimal.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengkaji potensi penggunaan material
nano sebagai material modifikasi campuran WMA untuk meningkatkan kinerja
mekanistik campuran HRS-WC. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah
mengidentifikasi pengaruh nanozeolit terhadap perilaku viskoelastik aspal,
iv
mengevaluasi sifat mekanistik campuran WMA HRS-WC dengan aspal modifikasi
nanozeolit alam, khususnya modulus resilien dan deformasi permanen, berdasarkan
pengujian di laboratorium, dan mengembangkan model prediksi untuk perilaku
modulus resilien dan deformasi permanen campuran WMA HRS-WC dengan aspal
modifikasi nanozeolit alam berdasarkan hasil pengujian laboratorium.
Berdasarkan hasil pengujian reologi aspal, penambahan nanozeolit alam ke dalam
aspal pen 60/70 cenderung meningkatkan nilai modulus geser kompleks aspal dan
mengurangi kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur dan frekuensi
pembebanan. Modifikasi aspal dengan nanozeolit alam juga meningkatkan nilai
modulus kekakuan bitumen, yang terjadi pada penambahan nanozeolit sebesar
0,1% dan 0,3%. Penambahan nanozeolit alam juga meningkatkan ketahanan aspal
terhadap alur dan retak lelah (fatigue cracking), yang ditandai dengan terjadinya
peningkatan nilai G*/sin ? dan penurunan nilai G*sin ?.
Hasil pengujian Marshall menunjukkan campuran HRS-WC dengan aspal
modifikasi nanozeolit alam sebesar 0,2% dari berat aspal memberikan kinerja yang
terbaik, yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai stabilitas dan MQ serta
turunnya VMA dan VIM, baik pada HMA maupun WMA, dibandingkan HMA
kontrol. Hasil pengujian modulus resilien campuran HRS-WC dengan aspal
modifikasi nanozeolit alam menunjukkan bahwa kadar nanozeolit optimal
bergantung pada suhu layanan, dengan kadar 0,1% nanozeolit alam yang
memberikan kinerja paling konsisten di seluruh rentang suhu. Secara umum
campuran WMA HRS-WC dengan aspal modifikasi nanozeolit alam menghasilkan
kedalaman alur yang lebih besar dibandingkan HMA pada semua suhu pengujian,
dengan campuran WMA dengan aspal modifikasi 0,1% nanozeolit alam yang
menghasilkan alur terkecil di antara campuran WMA.
Model prediksi nilai modulus resilien campuran (Smix) yang dikembangkan untuk
campuran WMA HRS-WC dengan aspal modifikasi nanozeolit alam merupakan
fungsi parameter Sbit, VFA dan kadar nanozeolit yang digunakan (NZ). Rasio nilai
modulus resilien antara hasil perhitungan model dengan hasil pengujian rata-rata
adalah 1,031. Model prediksi deformasi permanen yang dikembangkan untuk
campuran WMA HRS-WC dengan aspal modifikasi nanozeolit alam merupakan
hasil modifikasi model Al-Khateeb & Basheer (2009) yang merupakan fungsi
jumlah lintasan dan G*/sin ?. Rasio kedalaman alur untuk setiap jumlah lintasan
antara hasil perhitungan model dengan hasil pengujian rata-rata adalah 1,04.
Perpustakaan Digital ITB