digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 1 Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 2 Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 3 Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 4 Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 5 Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

PUSTAKA Deni Wahyu Hermawan
EMBARGO  2029-07-22 

Emas (Au) merupakan salah satu logam berharga yang banyak digunakan dalam perhiasan, elektronik, investasi, dan berbagai aplikasi teknologi. Salah satu sumber primer emas adalah dari bijih jenis sulfida refraktori yang memiliki emas terinklusi di dalam mineral-mineral sulfida sehingga dalam proses ekstraksinya secara langsung akan menghasilkan perolehan yang relatif rendah. Selain itu, proses hidrometalurgi emas saat ini banyak menerapkan metode sianidasi yang memiliki masalah toksisitas terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan proses pre-treatment bijih emas sulfida refraktori dan alternatif sianidasi agar proses ekstraksi lebih ramah lingkungan. Dalam penelitian ini, dipelajari pengaruh biooksidasi terhadap pelindian berbasis natrium tiosianat pada bijih emas sulfida yang diperoleh dari daerah Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia terhadap hasil pelindian berbasis tiosianat. Serangkaian percobaan biooksidasi dilakukan untuk mengetahui konsorsium bakteri terbaik, mempelajari pengaruh komposisi konsorsium terbaik terhadap persen ekstraksi emas melalui pelindian berbasis tiosianat. Percobaan diawali dengan percobaan seleksi bakteri (screening) untuk menentukan waktu inkubasi optimum, kemudian dilanjutkan percobaan biooksidasi pendahuluan selama 7 hari pada suhu ruang dengan metode agitasi pada kecepatan pengadukan 180 rpm yang dilanjutkan dengan proses pelindian menggunakan tiosianat. Percobaan terakhir merupakan biooksidasi inti yang parameternya sama dengan biooksidasi sebelumnya dengan memvariasikan komposisi konsorsium bakteri pada rasio 1:1, 2:3, dan 3:2. Hasil pelindian setelah biooksidasi dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) untuk mengetahui persen ektraksi emas yang dapat diambil. Parameter keberhasilan penelitian ini dibatasi pada nilai persen ekstraksi emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bijih emas sulfida asal Banyuwangi tergolong jenis refraktori dengan fase mineral utama berupa kuarsa, pirit, kalkopirit, dan kalkosit. Kondisi biooksidasi terbaik diperoleh menggunakan konsorsium Alicyclobacillus ferrooxydans strain SKC/SAA-2 dan Comamonas thiooxydans strain SKC/SAA-1 pada rasio volume 1:1 dalam media SKC-Broth termodifikasi, dengan inokulum total 10%, persen padatan 5%(b/v), dan waktu biooksidasi selama 7 hari. Praperlakuan biooksidasi tersebut meningkatkan ekstraksi emas menjadi 45,39%, jauh lebih tinggi dibandingkan pelindian langsung tanpa biooksidasi yang hanya menghasilkan ekstraksi sebesar 7,83%.