Terapi proton FLASH pada laju dosis ultra-tinggi (UHDR, ?40 Gy/s) dilaporkan
menurunkan toksisitas jaringan normal tanpa mengorbankan kontrol tumor, namun
mekanisme radiokimianya masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini
mengkaji bagaimana struktur spasial jejak proton dan struktur temporal berkas
memodulasi dinamika radikal, dengan membandingkan skema FLASH dan
konvensional. Simulasi radiokimia Monte Carlo berbasis track-structure dilakukan
menggunakan TOPAS-nBio dengan pendekatan Independent Reaction Time (IRT).
Berkas proton monoenergetik 100 MeV dimodelkan dalam air cair melalui dua
tahap. Tahap spasial mengkarakterisasi jejak proton dan distribusi radial spesies
dalam target bola berjari-jari 5 µm pada empat waktu cut-off (10 ps–10 ms) melalui
dimensi radial jejak R90, yaitu jari-jari yang melingkupi 90% spesies. Tahap
temporal membandingkan skema konvensional (1.000 pulsa, 1 Gy/s) dan FLASH
(10 pulsa, 100 Gy/s) pada dosis total identik 10 Gy, dengan analisis sensitivitas
memvariasikan interval pulsa (1 s–1 µs) dan lebar pulsa (10 ps–10 ms). G-value
(molekul/100 eV) untuk ????????????
? , •OH, dan H?O? dievaluasi. R90 meningkat dari ~0,09
µm pada 10 ps menjadi >3 µm pada 10 ms, membatasi rentang waktu terjadinya
tumpang tindih inter-track. Pada skema FLASH, G-value akhir (plateau) •OH dan
????????????
? menurun menjadi 1,47 dan 1,35 dibandingkan 2,07 dan 2,08 pada konvensional
(penurunan 28,7% dan 35,1%), sementara G(H?O?) meningkat 7,68%. Interval
pulsa sangat pendek (~1 µs) mendorong akumulasi radikal antarpulsa. Hasil ini
menunjukkan bahwa struktur spasial jejak dan struktur temporal berkas sama-sama
mengatur evolusi radiokimia, pemadatan temporal pada skema FLASH menekan
yield radikal reaktif dibandingkan konvensional.
Perpustakaan Digital ITB