Pertumbuhan industri bakery di Indonesia mendorong berkembangnya konsep
artisan bakery, termasuk di Kota Bandung, yang mengedepankan craftsmanship
dan presentasi visual sebagai representasi kualitas premium. Dalam konteks
tersebut, showcase menjadi titik interaksi visual utama antara produk dan
konsumen, sehingga pencahayaan dan elemen display berperan penting dalam
membentuk persepsi visual dan minat beli. Namun, kajian empiris yang
mengintegrasikan respons psikologis dan fisiologis terhadap pengaruh kedua
elemen tersebut pada showcase artisan bakery di Indonesia masih terbatas. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh temperatur warna
pencahayaan dan material alas display terhadap persepsi visual, minat beli, dan
respons fisiologis konsumen, serta merumuskan rekomendasi desain showcase
berbasis bukti ilmiah.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods sequential exploratory,
diawali observasi tipologi showcase pada lima toko artisan bakery di Kota Bandung
dan wawancara konsumen, dilanjutkan eksperimen laboratorium berdesain
faktorial 2×2. Respons psikologis diukur melalui kuesioner Likert (17 partisipan),
sedangkan respons fisiologis diukur menggunakan Electroencephalogram (EEG)
melalui Valence Index sebagai representasi respons afektif dan Choice Index
sebagai representasi kecenderungan preferensi konsumen (16 partisipan). Variabel
eksperimen meliputi temperatur warna pencahayaan (hangat dan dingin) serta
material alas display (kayu dan marmer), dengan produk pastri sebagai objek
representasi artisan bakery.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur warna pencahayaan merupakan
faktor yang paling konsisten memengaruhi respons konsumen dibandingkan
material alas display. Pencahayaan hangat menghasilkan persepsi visual dan minat
beli yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pencahayaan dingin,
sedangkan material kayu menunjukkan kecenderungan menghasilkan respons
psikologis yang lebih positif dibandingkan material marmer. Persepsi visual dan
minat beli menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat, mengindikasikan bahwa
persepsi visual menjadi mekanisme psikologis utama yang menghubungkan
stimulus visual dengan minat beli. Sebaliknya, pengukuran EEG belum
menunjukkan perbedaan yang signifikan pada Valence Index maupun Choice Index,
meskipun analisis ukuran efek menunjukkan kecenderungan pengaruh dengan
kategori sedang, terutama pada perubahan temperatur warna pencahayaan dengan
material kayu. Selain itu, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara persepsi
visual dan perubahan respons afektif (?Valence) pada kondisi pencahayaan hangat,
yang menunjukkan bahwa peningkatan evaluasi visual konsumen diikuti oleh
peningkatan respons afektif positif pada tingkat implisit.
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi pengukuran respons psikologis dan
fisiologis melalui pendekatan mixed methods sequential exploratory untuk
mengevaluasi desain showcase artisan bakery di Indonesia. Secara teoretis,
penelitian ini memperluas pemahaman mengenai hubungan antara elemen visual
ritel, respons psikologis, dan respons fisiologis dalam mengevaluasi produk. Secara
praktis, hasil penelitian merekomendasikan pencahayaan hangat sebagai elemen
utama serta material kayu sebagai elemen pendukung dalam konfigurasi showcase
untuk meningkatkan persepsi visual dan minat beli konsumen.
Perpustakaan Digital ITB