digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan industri bakery di Indonesia mendorong berkembangnya konsep artisan bakery, termasuk di Kota Bandung, yang mengedepankan craftsmanship dan presentasi visual sebagai representasi kualitas premium. Dalam konteks tersebut, showcase menjadi titik interaksi visual utama antara produk dan konsumen, sehingga pencahayaan dan elemen display berperan penting dalam membentuk persepsi visual dan minat beli. Namun, kajian empiris yang mengintegrasikan respons psikologis dan fisiologis terhadap pengaruh kedua elemen tersebut pada showcase artisan bakery di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh temperatur warna pencahayaan dan material alas display terhadap persepsi visual, minat beli, dan respons fisiologis konsumen, serta merumuskan rekomendasi desain showcase berbasis bukti ilmiah. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods sequential exploratory, diawali observasi tipologi showcase pada lima toko artisan bakery di Kota Bandung dan wawancara konsumen, dilanjutkan eksperimen laboratorium berdesain faktorial 2×2. Respons psikologis diukur melalui kuesioner Likert (17 partisipan), sedangkan respons fisiologis diukur menggunakan Electroencephalogram (EEG) melalui Valence Index sebagai representasi respons afektif dan Choice Index sebagai representasi kecenderungan preferensi konsumen (16 partisipan). Variabel eksperimen meliputi temperatur warna pencahayaan (hangat dan dingin) serta material alas display (kayu dan marmer), dengan produk pastri sebagai objek representasi artisan bakery. Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur warna pencahayaan merupakan faktor yang paling konsisten memengaruhi respons konsumen dibandingkan material alas display. Pencahayaan hangat menghasilkan persepsi visual dan minat beli yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pencahayaan dingin, sedangkan material kayu menunjukkan kecenderungan menghasilkan respons psikologis yang lebih positif dibandingkan material marmer. Persepsi visual dan minat beli menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat, mengindikasikan bahwa persepsi visual menjadi mekanisme psikologis utama yang menghubungkan stimulus visual dengan minat beli. Sebaliknya, pengukuran EEG belum menunjukkan perbedaan yang signifikan pada Valence Index maupun Choice Index, meskipun analisis ukuran efek menunjukkan kecenderungan pengaruh dengan kategori sedang, terutama pada perubahan temperatur warna pencahayaan dengan material kayu. Selain itu, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara persepsi visual dan perubahan respons afektif (?Valence) pada kondisi pencahayaan hangat, yang menunjukkan bahwa peningkatan evaluasi visual konsumen diikuti oleh peningkatan respons afektif positif pada tingkat implisit. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi pengukuran respons psikologis dan fisiologis melalui pendekatan mixed methods sequential exploratory untuk mengevaluasi desain showcase artisan bakery di Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini memperluas pemahaman mengenai hubungan antara elemen visual ritel, respons psikologis, dan respons fisiologis dalam mengevaluasi produk. Secara praktis, hasil penelitian merekomendasikan pencahayaan hangat sebagai elemen utama serta material kayu sebagai elemen pendukung dalam konfigurasi showcase untuk meningkatkan persepsi visual dan minat beli konsumen.