Proses produksi biodiesel dari biji bintaro (
Cerbera odollam
) menghasilkan limbah
daging buah yang masih mengandung cerberin, senyawa cardiac glycoside toksik
namun berpotensi sebagai bahan aktif biopestisida alami. Penelitian ini bertujuan
menentukan metode, pelarut, dan kondisi operasi optimal untuk mengekstraksi
cerberin dari limbah tersebut. Penelitian dilakukan
dengan 4 tahap
:
screening
pelarut,
fractional factorial design
,
central composite design
(FCCD), dan
perbandingan dengan metode maserasi, menggunakan bantuan perangkat lunak
Minitab. Kuantifikasi cerberin dilakukan dengan metode spektrofotometri UV
-
Vis
berbasis reaksi dengan reagen DNSA. Hasil
seleksi
pelarut menunjukkan metanol
memberikan perolehan cerberin tertinggi (8,86 ?g/mL) dibandingkan etanol (4,04
?g/mL), sementara etil asetat tidak mampu mengekstraksi cerberin secara
terdeteksi. Analisis
fractional factorial design
mengidentifikasi waktu ekstraksi
dan ukuran substrat sebagai variabel yang berpengaruh signifikan, sedangkan rasio
pelarut:substrat dan temperatur ekstraksi (
55
–
65
°C) tidak berpengaruh signifikan.
Optimasi menggunakan FCCD menghasilkan kondisi optimum pada pelarut
metanol, rasio pelarut:substrat 1:20 (m/m), temperatur didih metanol, ukuran
substrat 20 mesh, dan waktu ekstraksi 4 jam, dengan perolehan cerberin sebesa
r
29,39 ?g/mL menggunakan metode soxhletasi. Perbandingan dengan metode
maserasi pada kondisi yang sama menunjukkan perolehan cerberin soxhletasi lebih
tinggi (29,39 berbanding 12,71 ?g/mL). Kandungan cerberin residu pada ampas
hasil ekstraksi kondisi opti
mum tercatat rendah (2,17 ?g/mL), mengindikasikan
efektivitas proses pemisahan cerberin. Hasil penelitian ini memberikan referensi
kondisi ekstraksi cerberin yang optimal dari limbah pemerahan minyak bintaro,
mendukung pengelolaan limbah biodiesel bintaro
secara berkelanjutan serta
valorisasinya sebagai bahan aktif biopestisida alami.
Perpustakaan Digital ITB