digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nezar Afradiaz Zaid
PUBLIC Open In Flipbook Ridha Pratama Rusli

Proses produksi biodiesel dari biji bintaro ( Cerbera odollam ) menghasilkan limbah daging buah yang masih mengandung cerberin, senyawa cardiac glycoside toksik namun berpotensi sebagai bahan aktif biopestisida alami. Penelitian ini bertujuan menentukan metode, pelarut, dan kondisi operasi optimal untuk mengekstraksi cerberin dari limbah tersebut. Penelitian dilakukan dengan 4 tahap : screening pelarut, fractional factorial design , central composite design (FCCD), dan perbandingan dengan metode maserasi, menggunakan bantuan perangkat lunak Minitab. Kuantifikasi cerberin dilakukan dengan metode spektrofotometri UV - Vis berbasis reaksi dengan reagen DNSA. Hasil seleksi pelarut menunjukkan metanol memberikan perolehan cerberin tertinggi (8,86 ?g/mL) dibandingkan etanol (4,04 ?g/mL), sementara etil asetat tidak mampu mengekstraksi cerberin secara terdeteksi. Analisis fractional factorial design mengidentifikasi waktu ekstraksi dan ukuran substrat sebagai variabel yang berpengaruh signifikan, sedangkan rasio pelarut:substrat dan temperatur ekstraksi ( 55 – 65 °C) tidak berpengaruh signifikan. Optimasi menggunakan FCCD menghasilkan kondisi optimum pada pelarut metanol, rasio pelarut:substrat 1:20 (m/m), temperatur didih metanol, ukuran substrat 20 mesh, dan waktu ekstraksi 4 jam, dengan perolehan cerberin sebesa r 29,39 ?g/mL menggunakan metode soxhletasi. Perbandingan dengan metode maserasi pada kondisi yang sama menunjukkan perolehan cerberin soxhletasi lebih tinggi (29,39 berbanding 12,71 ?g/mL). Kandungan cerberin residu pada ampas hasil ekstraksi kondisi opti mum tercatat rendah (2,17 ?g/mL), mengindikasikan efektivitas proses pemisahan cerberin. Hasil penelitian ini memberikan referensi kondisi ekstraksi cerberin yang optimal dari limbah pemerahan minyak bintaro, mendukung pengelolaan limbah biodiesel bintaro secara berkelanjutan serta valorisasinya sebagai bahan aktif biopestisida alami.