Kanker payudara merupakan kanker dengan insidensi tertinggi pada perempuan
secara global, dengan 2,4 juta kasus baru pada tahun 2024 (WHO). Penyakit ini
berkembang akibat proliferasi sel payudara yang tidak terkendali dan berpotensi
bermetastasis. Turunan benzotiazol diketahui memiliki aktivitas antikanker serta
kecenderungan terakumulasi pada sel kanker payudara yang mengekspresikan
reseptor estrogen, seperti sel MCF-7, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai
pembawa radionuklida. Teknesium-99m (99mTc), sebagai pemancar gamma murni
(140 keV) dengan waktu paruh sekitar 6 jam, dipilih karena memberikan kualitas
pencitraan yang baik dengan paparan radiasi minimal. Kombinasi sifat benzotiazol
dan karakteristik fisika ???Tc berpotensi dikembangkan menjadi radiofarmaka
untuk diagnosis kanker payudara.
Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, mensintesis, melakukan penandaan, serta
mengevaluasi senyawa turunan benzotiazol sebagai kandidat radiofarmaka untuk
diagnosis kanker payudara. Penelitian dilakukan melalui pendekatan terintegrasi
yang meliputi studi in silico, sintesis ligan, penandaan dengan ???Tc, karakterisasi
kimia, uji internalisasi sel, serta evaluasi biodistribusi dan pencitraan dengan
kamera gamma pada hewan uji. Dua senyawa baru berbasis DTPA-benzotiazol,
yaitu DB-17 dan DB-18, dilaporkan untuk pertama kalinya sebagai kandidat ligan
untuk radiofarmaka dengan target reseptor estrogen.
Hasil studi in silico menunjukkan bahwa senyawa bertanda 99mTc, TDB-17 dan
TDB-18, memiliki afinitas terhadap reseptor estrogen dengan energi bebas
pengikatan masing-masing sebesar -22,67 dan -23,97 kkal/mol, yang lebih negatif
dibandingkan senyawa pembanding TDAB sebesar -7,36 kkal/mol, serta
menunjukkan stabilitas konformasi yang baik pada simulasi dinamika molekuler
(molecular dynamic/MD) selama 200 ns. Prediksi farmakokinetik menunjukkan
profil yang mendukung sebagai kandidat radiofarmaka, dengan log P moderat,
jumlah ikatan rotasi ideal, permeabilitas BBB (blood-brain barrier) dan CNS
(Central Nervous System) yang rendah, serta toksisitas akut yang rendah. Secara
eksperimental, DB-17 dan DB-18 berhasil disintesis dan dikarakterisasi
menggunakan HPLC, HRMS dan NMR. Optimasi penandaan menghasilkan
kemurnian radiokimia sebesar 96,15 ± 1,8% untuk TDB-17 dan 91,04 ± 2,8% untuk
TDB-18. Uji internalisasi seluler pada sel MCF-7 yang dilakukan pada TDB-17 dan
TDB-18 menunjukkan bahwa TDB-17 memiliki internalisasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan TDB-18 pada berbagai waktu inkubasi, dan keduanya
berbeda secara signifikan dibandingkan dengan ???Tc bebas.
Evaluasi biodistribusi dan pencitraan menggunakan kamera gamma Solo Mobile
pada mencit BALB/c betina normal menunjukkan bahwa TDB-17 terdistribusi
terutama pada hati, paru-paru, dan limpa, yang mengindikasikan dominasi eliminasi
melalui jalur hepatik serta keterlibatan sistem retikuloendotelial. Akumulasi yang
rendah di ginjal, otak, dan lambung menunjukkan eliminasi yang relatif rendah
melalui ginjal, tidak adanya penetrasi bermakna ke blood-brain barrier, serta
rendahnya akumulasi pada saluran gastrointestinal. Pada pencitraan, tidak tampak
akumulasi radioaktivitas yang jelas pada area payudara, meskipun jaringan
payudara tidak diambil dan tidak dianalisis secara khusus dalam pengukuran
biodistribusi.
Hasil penelitian ini memberikan kontribusi kebaruan ilmiah berupa pengembangan
dua senyawa baru turunan benzotiazol dan evaluasi secara komprehensif sebagai
kandidat radiofarmaka bertanda 99mTc dengan target reseptor estrogen. Secara
umum, TDB-17 dan TDB-18 menunjukkan karakteristik yang mendukung
pengembangan lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka untuk diagnosis kanker
payudara berbasis pencitraan nuklir.
Perpustakaan Digital ITB