digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kanker payudara merupakan kanker dengan insidensi tertinggi pada perempuan secara global, dengan 2,4 juta kasus baru pada tahun 2024 (WHO). Penyakit ini berkembang akibat proliferasi sel payudara yang tidak terkendali dan berpotensi bermetastasis. Turunan benzotiazol diketahui memiliki aktivitas antikanker serta kecenderungan terakumulasi pada sel kanker payudara yang mengekspresikan reseptor estrogen, seperti sel MCF-7, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pembawa radionuklida. Teknesium-99m (99mTc), sebagai pemancar gamma murni (140 keV) dengan waktu paruh sekitar 6 jam, dipilih karena memberikan kualitas pencitraan yang baik dengan paparan radiasi minimal. Kombinasi sifat benzotiazol dan karakteristik fisika ???Tc berpotensi dikembangkan menjadi radiofarmaka untuk diagnosis kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, mensintesis, melakukan penandaan, serta mengevaluasi senyawa turunan benzotiazol sebagai kandidat radiofarmaka untuk diagnosis kanker payudara. Penelitian dilakukan melalui pendekatan terintegrasi yang meliputi studi in silico, sintesis ligan, penandaan dengan ???Tc, karakterisasi kimia, uji internalisasi sel, serta evaluasi biodistribusi dan pencitraan dengan kamera gamma pada hewan uji. Dua senyawa baru berbasis DTPA-benzotiazol, yaitu DB-17 dan DB-18, dilaporkan untuk pertama kalinya sebagai kandidat ligan untuk radiofarmaka dengan target reseptor estrogen. Hasil studi in silico menunjukkan bahwa senyawa bertanda 99mTc, TDB-17 dan TDB-18, memiliki afinitas terhadap reseptor estrogen dengan energi bebas pengikatan masing-masing sebesar -22,67 dan -23,97 kkal/mol, yang lebih negatif dibandingkan senyawa pembanding TDAB sebesar -7,36 kkal/mol, serta menunjukkan stabilitas konformasi yang baik pada simulasi dinamika molekuler (molecular dynamic/MD) selama 200 ns. Prediksi farmakokinetik menunjukkan profil yang mendukung sebagai kandidat radiofarmaka, dengan log P moderat, jumlah ikatan rotasi ideal, permeabilitas BBB (blood-brain barrier) dan CNS (Central Nervous System) yang rendah, serta toksisitas akut yang rendah. Secara eksperimental, DB-17 dan DB-18 berhasil disintesis dan dikarakterisasi menggunakan HPLC, HRMS dan NMR. Optimasi penandaan menghasilkan kemurnian radiokimia sebesar 96,15 ± 1,8% untuk TDB-17 dan 91,04 ± 2,8% untuk TDB-18. Uji internalisasi seluler pada sel MCF-7 yang dilakukan pada TDB-17 dan TDB-18 menunjukkan bahwa TDB-17 memiliki internalisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan TDB-18 pada berbagai waktu inkubasi, dan keduanya berbeda secara signifikan dibandingkan dengan ???Tc bebas. Evaluasi biodistribusi dan pencitraan menggunakan kamera gamma Solo Mobile pada mencit BALB/c betina normal menunjukkan bahwa TDB-17 terdistribusi terutama pada hati, paru-paru, dan limpa, yang mengindikasikan dominasi eliminasi melalui jalur hepatik serta keterlibatan sistem retikuloendotelial. Akumulasi yang rendah di ginjal, otak, dan lambung menunjukkan eliminasi yang relatif rendah melalui ginjal, tidak adanya penetrasi bermakna ke blood-brain barrier, serta rendahnya akumulasi pada saluran gastrointestinal. Pada pencitraan, tidak tampak akumulasi radioaktivitas yang jelas pada area payudara, meskipun jaringan payudara tidak diambil dan tidak dianalisis secara khusus dalam pengukuran biodistribusi. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi kebaruan ilmiah berupa pengembangan dua senyawa baru turunan benzotiazol dan evaluasi secara komprehensif sebagai kandidat radiofarmaka bertanda 99mTc dengan target reseptor estrogen. Secara umum, TDB-17 dan TDB-18 menunjukkan karakteristik yang mendukung pengembangan lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka untuk diagnosis kanker payudara berbasis pencitraan nuklir.