Ketersediaan perangkat LLM (Large Language Model) sejak ledakan AI generatif
pada akhir 2022 merupakan kondisi baru dalam praktik penulisan teks kuratorial,
yakni tulisan berformat esai yang memuat bingkai interpretatif seorang kurator atas
sebuah pameran. Penelitian ini menelaah dua rumusan masalah, yakni bagaimana
kepengarangan kuratorial di Indonesia diartikulasikan melalui teks kuratorial, dan
bagaimana pelibatan perangkat LLM dalam penulisan teks kuratorial pascaledakan
AI generatif 2022 memengaruhi kepengarangan kurator muda di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif yang bersifat
eksploratif. Wawancara dilakukan dengan lima kurator yang mewakili variasi
konteks praktik kuratorial di Indonesia, yakni Alia Swastika dan Akiq AW dalam
konteks Biennale Jogja Equator, Apriyulia dan Raymizard Firmansyah selaku
partisipan Residensi Kuratorial MTN Lab: Rules of the Game, serta Nur Annisya
Mangadil selaku kurator pameran tunggal Trio Muharam Betrak Betruk and Don't
Care. Teks kuratorial yang mereka tulis dikaji sebagai unit data yang dipasangkan
dengan wawancara. Data dari kedua kurator Biennale Jogja Equator digunakan
untuk membangun konteks kepengarangan kuratorial di Indonesia, sedangkan
ketiga kurator muda menjadi subjek utama analisis. Untuk membantu menjelaskan
prinsip kerja perangkat LLM dan implikasinya terhadap kepengarangan, penelitian
ini juga melibatkan seorang pakar teknologi kecerdasan buatan, yakni Prof. Armein
Langi, sebagai narasumber pendukung. Data dibaca melalui kerangka kuratorsebagai-pengarang dari O'Neill, konsep kekhasan kuratorial Heinich dan Pollak,
fungsi-pengarang Foucault, gagasan penyandian teks bagi seorang model reader
dari Eco dan Manacorda, serta taksonomi Bloom versi revisi Anderson dan
Krathwohl yang digunakan untuk menakar derajat kerja kognitif yang
didelegasikan kepada perangkat LLM. Rumusan masalah pertama ditelaah melalui
empat tindakan penyandian, yakni membingkai, menghubungkan, menerjemahkan,
dan mengotorisasi. Adapun rumusan masalah kedua ditelaah melalui tiga poros
kepengarangan kuratorial, yakni akuntabilitas, standardisasi, dan orisinalitas.
Analisis rumusan masalah pertama menunjukkan bahwa kepengarangan kurator
diartikulasikan melalui teks kuratorial sebagai tindakan penyandian bingkai
interpretatif yang ditanggung secara personal maupun kolektif, dengan konsentrasi
yang bervariasi mengikuti ruang kewenangan proyek dan senantiasa bersifat
heteronom, yakni merupakan produk dari negosiasi dengan seniman,
penyelenggara, dan publik. Analisis rumusan masalah kedua menunjukkan bahwa
para kurator muda cenderung membatasi pelibatan perangkat LLM-nya pada taraf
permukaan proses penyandian, yakni merapikan kalimat, menyederhanakan
bahasa, hingga memeriksa ejaan, sembari mempertahankan kendali penuh atas
proses pengambilan keputusan interpretatif yang menjadi inti dari sebuah konsep
kuratorial. Pelibatan perangkat LLM tidak menghapus kepengarangan kurator,
melainkan menegosiasikan ulang fungsi-pengarang pada ketiga poros
kepengarangan kuratorial. Akuntabilitas semakin terkonsentrasi pada kurator
selaku pengguna perangkat LLM. Ancaman standardisasi dari keluaran perangkat
LLM yang generik pada akhirnya diimbangi oleh penyuntingan. Adapun
orisinalitas bergeser ke tindakan seleksi dan integrasi. Sintesis kedua analisis
memperlihatkan sebuah paralel, yakni bahwa kepengarangan kuratorial tampak
paling jelas pada momen negosiasi, baik dengan pihak-pihak pameran maupun
dengan perangkat LLM, sehingga kekhasan kuratorial kini mencakup bukan hanya
apa yang ditulis seorang kurator, melainkan juga apa yang ia terima atau tolak dari
perangkat LLM yang digunakannya. Kepengarangan itu bertahan pada tiga hal yang
tidak dimiliki perangkat LLM, yakni posisi yang lahir dari subjektivitas dan
worldview, tanggung jawab atas tafsir yang ditawarkan kepada publik yang tidak
dapat dilimpahkan kepada mesin, serta proses pembentukan kompetensi menulis
dan kelekatan dengan objek kurasi yang tidak dapat didelegasikan. Dengan
demikian, penelitian ini menawarkan pembacaan awal tentang kepengarangan
kuratorial sebagai persoalan yang tidak hanya menyangkut atribusi "dikuratori
oleh", tetapi terwujud dalam perumusan, penulisan, dan pertanggungjawaban atas
bingkai interpretatif pameran, sekaligus menyediakan kerangka awal bagi
penelitian selanjutnya tentang hubungan antara praktik kuratorial, teks kuratorial,
perangkat LLM, dan kepengarangan
Perpustakaan Digital ITB