digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rizki Asasi [27024005]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Ketersediaan perangkat LLM (Large Language Model) sejak ledakan AI generatif pada akhir 2022 merupakan kondisi baru dalam praktik penulisan teks kuratorial, yakni tulisan berformat esai yang memuat bingkai interpretatif seorang kurator atas sebuah pameran. Penelitian ini menelaah dua rumusan masalah, yakni bagaimana kepengarangan kuratorial di Indonesia diartikulasikan melalui teks kuratorial, dan bagaimana pelibatan perangkat LLM dalam penulisan teks kuratorial pascaledakan AI generatif 2022 memengaruhi kepengarangan kurator muda di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif yang bersifat eksploratif. Wawancara dilakukan dengan lima kurator yang mewakili variasi konteks praktik kuratorial di Indonesia, yakni Alia Swastika dan Akiq AW dalam konteks Biennale Jogja Equator, Apriyulia dan Raymizard Firmansyah selaku partisipan Residensi Kuratorial MTN Lab: Rules of the Game, serta Nur Annisya Mangadil selaku kurator pameran tunggal Trio Muharam Betrak Betruk and Don't Care. Teks kuratorial yang mereka tulis dikaji sebagai unit data yang dipasangkan dengan wawancara. Data dari kedua kurator Biennale Jogja Equator digunakan untuk membangun konteks kepengarangan kuratorial di Indonesia, sedangkan ketiga kurator muda menjadi subjek utama analisis. Untuk membantu menjelaskan prinsip kerja perangkat LLM dan implikasinya terhadap kepengarangan, penelitian ini juga melibatkan seorang pakar teknologi kecerdasan buatan, yakni Prof. Armein Langi, sebagai narasumber pendukung. Data dibaca melalui kerangka kuratorsebagai-pengarang dari O'Neill, konsep kekhasan kuratorial Heinich dan Pollak, fungsi-pengarang Foucault, gagasan penyandian teks bagi seorang model reader dari Eco dan Manacorda, serta taksonomi Bloom versi revisi Anderson dan Krathwohl yang digunakan untuk menakar derajat kerja kognitif yang didelegasikan kepada perangkat LLM. Rumusan masalah pertama ditelaah melalui empat tindakan penyandian, yakni membingkai, menghubungkan, menerjemahkan, dan mengotorisasi. Adapun rumusan masalah kedua ditelaah melalui tiga poros kepengarangan kuratorial, yakni akuntabilitas, standardisasi, dan orisinalitas. Analisis rumusan masalah pertama menunjukkan bahwa kepengarangan kurator diartikulasikan melalui teks kuratorial sebagai tindakan penyandian bingkai interpretatif yang ditanggung secara personal maupun kolektif, dengan konsentrasi yang bervariasi mengikuti ruang kewenangan proyek dan senantiasa bersifat heteronom, yakni merupakan produk dari negosiasi dengan seniman, penyelenggara, dan publik. Analisis rumusan masalah kedua menunjukkan bahwa para kurator muda cenderung membatasi pelibatan perangkat LLM-nya pada taraf permukaan proses penyandian, yakni merapikan kalimat, menyederhanakan bahasa, hingga memeriksa ejaan, sembari mempertahankan kendali penuh atas proses pengambilan keputusan interpretatif yang menjadi inti dari sebuah konsep kuratorial. Pelibatan perangkat LLM tidak menghapus kepengarangan kurator, melainkan menegosiasikan ulang fungsi-pengarang pada ketiga poros kepengarangan kuratorial. Akuntabilitas semakin terkonsentrasi pada kurator selaku pengguna perangkat LLM. Ancaman standardisasi dari keluaran perangkat LLM yang generik pada akhirnya diimbangi oleh penyuntingan. Adapun orisinalitas bergeser ke tindakan seleksi dan integrasi. Sintesis kedua analisis memperlihatkan sebuah paralel, yakni bahwa kepengarangan kuratorial tampak paling jelas pada momen negosiasi, baik dengan pihak-pihak pameran maupun dengan perangkat LLM, sehingga kekhasan kuratorial kini mencakup bukan hanya apa yang ditulis seorang kurator, melainkan juga apa yang ia terima atau tolak dari perangkat LLM yang digunakannya. Kepengarangan itu bertahan pada tiga hal yang tidak dimiliki perangkat LLM, yakni posisi yang lahir dari subjektivitas dan worldview, tanggung jawab atas tafsir yang ditawarkan kepada publik yang tidak dapat dilimpahkan kepada mesin, serta proses pembentukan kompetensi menulis dan kelekatan dengan objek kurasi yang tidak dapat didelegasikan. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan pembacaan awal tentang kepengarangan kuratorial sebagai persoalan yang tidak hanya menyangkut atribusi "dikuratori oleh", tetapi terwujud dalam perumusan, penulisan, dan pertanggungjawaban atas bingkai interpretatif pameran, sekaligus menyediakan kerangka awal bagi penelitian selanjutnya tentang hubungan antara praktik kuratorial, teks kuratorial, perangkat LLM, dan kepengarangan