ABSTRAK - Naila Noor Qomariyah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Bambu gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea) berpotensi sebagai salah satu alternatif pengganti kayu. Namun, diameter yang kecil dan bentuknya yang bulat berongga membatasi pemakaiannya dibandingkan kayu. Teknologi laminasi diharapkan dapat memperluas pemanfaatan bambu tersebut. Laminasi akan dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku yang direkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi tumbuh, waktu panen, dan arah aksial batang bambu terhadap kualitas rekat bambu laminasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga faktor yaitu faktor lokasi tumbuh (jauh dari mata air dan dekat dari mata air), waktu panen bambu (bulan Maret dan bulan Agustus), dan arah aksial batang bambu (pangkal, tengah, ujung). Variabel respon yang diuji adalah kadar air, kerapatan, keterbasahan, delaminasi, dan kuat geser. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA General Linear Model dan dilanjutkan uji Tukey untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil menunjukkan bahwa lokasi tumbuh, waktu panen, dan arah aksial batang bambu berpengaruh terhadap parameter kualitas rekat bambu, kecuali kuat geser. Nilai kadar air memenuhi persyaratan SNI 7944-2014 (KA?14%) dengan kadar air sebesar 10,07-11,11%. Nilai kerapatan tertinggi terdapat pada bambu yang tumbuh di lokasi jauh mata air dan dipanen di bulan Agustus dengan rata-rata 0,8 g/cm3. Kerapatan mengalami peningkatan dari bagian pangkal menuju ujung. Nilai keterbasahan bambu gombong yang diperoleh dengan metode Tinggi Penyerapan Air Terkoreksi (TPAT) adalah 157,19 – 221,33 cm. Nilai delaminasi bambu laminasi belum dapat memenuhi JAS 1152:2023 (maksimal 5%). Sedangkan nilai kuat geser pada bambu laminasi belum dapat memenuhi JAS 1152:2023 (minimal 5,4 MPa) pada beberapa sampel dengan nilai kuat geser sebesar 3,70 – 7,57 MPa.
Perpustakaan Digital ITB