ABSTRAK Listya Gharini Saraswati
Terbatas Irwan Sofiyan
» ITB
Terbatas Irwan Sofiyan
» ITB
Secara umum, fermentasi merupakan pemecahan karbohidrat seperti pati dan gula oleh
bakteri dan ragi yang pada awalnya bertujuan untuk mengawetkan makanan. Secara global,
terdapat banyak produk makanan fermentasi yang antara lain adalah sosis. Dalam produksi
sosis, banyak tipe daging yang digunakan, seperti daging ayam, sapi dan babi. Semua bentuk
daging yang digunakan memiliki suatu karakteristik yang sama, yaitu mudah mengalami
kerusakan. Guna mencegah kerusakan atau pembusukan, curing agent seperti sodium nitrit
dan sodium nitrat digunakan saat fermentasi. Akan tetapi, nutrien pada daging berkurang
dengan penambahan curing agent tersebut karena dikenal memiliki peran dalam
pembentukan senyawa N-Nitrosamina yang bersifat karsinogen. Pada penelitian ini, akan
digunakan kultur bakteri asam laktat sebagai pengganti curing agent dan diharapkan
menimbulkan dampak yang serupa. Kultur yang digunakan merupakan bakteri asam laktat
spesies L. plantarum karena dapat meningkatkan kualitas sosis dengan cara menghambat
pertumbuhan bakteri perusak/patogen serta meningkatkan karakteristik organoleptik.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konsentrasi bakteri kultur starter
Lactobacillus plantarum dalam fermentasi sosis dan dibandingkan dengan sosis yang
difermentasi secara alami dengan penambahan sodium nitrit (NaNO3). Penelitian dilakukan
selama tiga hari dengan empat perlakuan; sodium nitrit (kontrol), 3% (v/w), 5% (v/w) dan 7%
(v/w) L. plantarum dengan kerapatan sekitar 106 yang melalui proses fermentasi (20ºC) dan
pengasapan (cold smoke). Pengamatan dinamika populasi dilakukan dengan teknik spread
pada medium MRSA untuk LAB, NA untuk bakteri total dan EMBA untuk bakteri coliform.
Proses asidifikasi diamati melalui uji pH, nutrisi diuji melalui uji proksimat dan karakteristik
organoleptik diuji melalui uji hedonik. Uji mikrobiologis dan pH dilakukan setiap 12 jam,
sedangkan uji proksimat dan hedonik dilakukan setelah pengasapan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya konsentrasi inokulum awal yang
ditambahkan, dinamika populasi LAB semakin stabil. Terkait coliform, laju peningkatan
jumlah sel lebih besar pada penambahan konsentrasi inokulum yang lebih kecil. Lalu,
terdapat peningkatan durasi dominansi LAB pada sosis fermentasi dengan meningkatnya
konsentrasi inokulum yang ditambahkan sampai dengan 7% inokulum (v/w). Selanjutnya,
terdapat perbedaan yang signifikan pada kandungan nutrisi proksimat antar perlakuan.
Terakhir, aspek organoleptik sosis yang dinilai paling tinggi merupakan sosis dengan 7%
inokulum (v/w).
Perpustakaan Digital ITB