Industri telekomunikasi global mengalami stagnasi dengan CAGR hanya sebesar
2,8% yang diperkirakan hingga tahun 2028. Seiring dengan perkembangan ini,
perusahaan telekomunikasi telah bertransformasi menjadi Fixed Mobile
Convergence (FMC). Pada tahun 2023, Telkom Group memulai transformasi bisnis
FMC, sejalan dengan transformasi 5 Bold Moves, dengan menggabungkan bisnis
broadband tetap Indihome, yang sebelumnya berada di bawah perusahaan holding,
dengan bisnis seluler di Telkomsel. Penggabungan ini telah menimbulkan masalah
operasional yang signifikan pada kinerja pengembangan produk dan memperlambat
waktu ke pasar akibat kompleksitas organisasi pasca penggabungan. Penelitian ini
berupaya untuk mengeksplorasi hubungan antara Kelincahan Strategis Organisasi
dan Kinerja Pengembangan Produk FMC yang dimediasi oleh Ketahanan
Karyawan dan Efikasi Diri setelah penggabungan bisnis.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan survei yang dilakukan
terhadap 170 karyawan Telkomsel dan perpindahan karyawan dari Direktorat
Pemasaran, TI, Penjualan, serta Perencanaan & Transformasi. Data yang berhasil
dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural
Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan langsung dan mediasi
antar variabel. Temuan penelitian ini secara empiris menegaskan bahwa
Ketangkasan Strategis Organisasi memiliki dampak positif dan signifikan secara
langsung terhadap Kinerja Pengembangan Produk. Selain itu, variabel mediasi
Ketahanan Karyawan dan Efikasi Diri juga merupakan mediator positif dan
signifikan secara parsial terhadap Kinerja Pengembangan Produk. Hasil analisis
deskriptif menunjukkan adanya masalah pada kinerja pengembangan produk, yang
dipengaruhi oleh ketangkasan strategis organisasi, seperti desain organisasi yang
kompleks dan arsitektur sistem TI. Namun pada tingkat mikro, di level karyawan,
justru menunjukkan ketahanan dan efikasi diri karyawan yang tinggi.. Karyawan
yang dipindahkan memiliki ketahanan karyawan yang tinggi, karena
pengalamannya dalam menghadapi berbagai tekanan dari pemangku kepentingan
di perusahaan induk, sementara karyawan Telkomsel yang ada memiliki efikasi diri
yang tinggi, karena budaya ekosistem bisnis seluler yang lebih gesit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kinerja
pengembangan produk setelah sebuah merger, selain meningkatkan kelincahan
strategis organisasi pada tingkat makro, strategi modal manusia perlu diselaraskan
dengan kemampuan dan karakteristik ketahanan serta efikasi diri dari karyawan
yang ada maupun yang dipindahkan. Rekomendasi bagi Telkomsel dari penelitian
ini adalah untuk menyelesaikan masalah kompleksitas organisasi dan TI agar
menjadi lebih ramping dan efisien, serta mengintegrasikan karyawan yang ada
dengan karyawan yang dipindahkan untuk memaksimalkan kekuatan keduanya
serta menciptakan soliditas dan akulturasi budaya kerja yang optimal guna
mempercepat waktu pemasaran produk FMC. Kontribusi penelitian ini terletak
pada memperkaya kondisi pasca-merger dalam industri telekomunikasi, di mana
transformasi bisnis menjadi FMC memerlukan kombinasi kelincahan strategis pada
tingkat makro dan kekuatan ketahanan serta efikasi diri karyawan pada tingkat
mikrofoundation.
Perpustakaan Digital ITB