digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri telekomunikasi global mengalami stagnasi dengan CAGR hanya sebesar 2,8% yang diperkirakan hingga tahun 2028. Seiring dengan perkembangan ini, perusahaan telekomunikasi telah bertransformasi menjadi Fixed Mobile Convergence (FMC). Pada tahun 2023, Telkom Group memulai transformasi bisnis FMC, sejalan dengan transformasi 5 Bold Moves, dengan menggabungkan bisnis broadband tetap Indihome, yang sebelumnya berada di bawah perusahaan holding, dengan bisnis seluler di Telkomsel. Penggabungan ini telah menimbulkan masalah operasional yang signifikan pada kinerja pengembangan produk dan memperlambat waktu ke pasar akibat kompleksitas organisasi pasca penggabungan. Penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi hubungan antara Kelincahan Strategis Organisasi dan Kinerja Pengembangan Produk FMC yang dimediasi oleh Ketahanan Karyawan dan Efikasi Diri setelah penggabungan bisnis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan survei yang dilakukan terhadap 170 karyawan Telkomsel dan perpindahan karyawan dari Direktorat Pemasaran, TI, Penjualan, serta Perencanaan & Transformasi. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan langsung dan mediasi antar variabel. Temuan penelitian ini secara empiris menegaskan bahwa Ketangkasan Strategis Organisasi memiliki dampak positif dan signifikan secara langsung terhadap Kinerja Pengembangan Produk. Selain itu, variabel mediasi Ketahanan Karyawan dan Efikasi Diri juga merupakan mediator positif dan signifikan secara parsial terhadap Kinerja Pengembangan Produk. Hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya masalah pada kinerja pengembangan produk, yang dipengaruhi oleh ketangkasan strategis organisasi, seperti desain organisasi yang kompleks dan arsitektur sistem TI. Namun pada tingkat mikro, di level karyawan, justru menunjukkan ketahanan dan efikasi diri karyawan yang tinggi.. Karyawan yang dipindahkan memiliki ketahanan karyawan yang tinggi, karena pengalamannya dalam menghadapi berbagai tekanan dari pemangku kepentingan di perusahaan induk, sementara karyawan Telkomsel yang ada memiliki efikasi diri yang tinggi, karena budaya ekosistem bisnis seluler yang lebih gesit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kinerja pengembangan produk setelah sebuah merger, selain meningkatkan kelincahan strategis organisasi pada tingkat makro, strategi modal manusia perlu diselaraskan dengan kemampuan dan karakteristik ketahanan serta efikasi diri dari karyawan yang ada maupun yang dipindahkan. Rekomendasi bagi Telkomsel dari penelitian ini adalah untuk menyelesaikan masalah kompleksitas organisasi dan TI agar menjadi lebih ramping dan efisien, serta mengintegrasikan karyawan yang ada dengan karyawan yang dipindahkan untuk memaksimalkan kekuatan keduanya serta menciptakan soliditas dan akulturasi budaya kerja yang optimal guna mempercepat waktu pemasaran produk FMC. Kontribusi penelitian ini terletak pada memperkaya kondisi pasca-merger dalam industri telekomunikasi, di mana transformasi bisnis menjadi FMC memerlukan kombinasi kelincahan strategis pada tingkat makro dan kekuatan ketahanan serta efikasi diri karyawan pada tingkat mikrofoundation.