Abstrak_Alwi Husein
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Bandung telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Indonesia dan memiliki identitas yang kuat sebagai kota kuliner. Budaya kuliner kota ini berkaitan erat dengan ekonomi kreatifnya, di mana makanan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya. Topik ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang menempatkan arsitektur sebagai media dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui ruang publik yang inklusif sekaligus memperkuat identitas lokal dan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kuliner semakin bergeser menuju aktivitas yang berorientasi pada pengalaman, di mana pengunjung mencari suasana, keterlibatan budaya, dan pengalaman spasial yang berkesan. Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu destinasi wisata utama di Bandung. Meskipun memiliki peran penting sebagai salah satu ikon wisata utama Kota Bandung, Masjid Al-Jabbar mengalami penurunan jumlah kunjungan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya ragam aktivitas di luar fungsi keagamaan serta belum adanya atraksi pendukung yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Selain itu, meskipun kawasan sekitarnya menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap aktivitas kuliner, fasilitas yang terorganisasi untuk mengakomodasi dan merayakan budaya kuliner Sunda masih terbatas. Sebagai alternatif, proyek ini mengusulkan sebuah Culinary Culture Experience Center yang berlokasi di kawasan sekitar Masjid Al-Jabbar. Tipologi ini dipilih karena mampu mengintegrasikan aktivitas kuliner, interpretasi budaya, dan interaksi publik dalam sebuah destinasi berbasis pengalaman yang menempatkan pengalaman kuliner sebagai praktik budaya yang hidup. Proyek ini dikembangkan melalui metode perancangan kualitatif yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis kontekstual, dan studi komparatif preseden untuk merumuskan strategi arsitektur yang responsif terhadap kondisi budaya, spasial, dan lingkungan tapak. Dengan menerapkan pendekatan Experiential Architecture dan Critical Regionalism, proyek ini menerjemahkan praktik kuliner Sunda ke dalam rangkaian pengalaman sensorik, sosial, dan spasial melalui program kuliner yang terkurasi, ruang terbuka publik, serta sirkulasi yang terintegrasi dengan lanskap. Rancangan mengadopsi komposisi paviliun bertingkat rendah yang dicirikan oleh pola pergerakan organik, pengalaman tepi perairan, reinterpretasi kontemporer arsitektur Sunda, serta penggunaan material kayu dan vegetasi secara ekstensif untuk menciptakan lingkungan yang imersif secara kultural. Proyek ini bertujuan mewujudkan sebuah destinasi kuliner Sunda yang melengkapi keberadaan Masjid Al-Jabbar, memperkuat identitas budaya lokal, serta mengakomodasi aktivitas kuliner dalam suatu tatanan ruang publik yang terorganisasi. Melampaui proposisi arsitekturalnya, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menspasialisasikan praktik budaya dan mentransformasikan aktivitas kuliner menjadi media yang inklusif bagi pelestarian budaya, keterlibatan publik, dan pengembangan pariwisata di Kota Bandung.
Perpustakaan Digital ITB